Home Kolom Luhut Usul Restrukturisasi 60 Tahun. Ketum APIB Erick Sitompul : Tidak Logis...

Luhut Usul Restrukturisasi 60 Tahun. Ketum APIB Erick Sitompul : Tidak Logis Terlalu Lama. Sebelum Di Restrukturisasi Whoosh Agar Diaudit Total Dahulu.

141
0

Luhut Usul Restrukturisasi 60 Tahun. Ketum APIB Erick Sitompul : Tidak Logis Terlalu Lama. Sebelum Di Restrukturisasi Whoosh Agar Diaudit Total Dahulu.

Pernyataan Luhut Panjaitan Ketua DEN yang menyatakan bahwa dirinya sudah berbicara dengan pihak China Development Bank tentang restrukturisasi Whoosh menjadi 60 tahun, dari awal hanya 40 tahun.

Purbaya sendiri terkesan angkat tangan mendengar usulan itu dan mengaku tidak ikut ikutan terhadap restrukturisasi tersebut.

Ketua umum DPP APIB A Aliansi Profesional Indonesia Bangkit), Erick Sitompul, mengatakan usul itu sangat tidak logis dan jauh dari kewajaran sebuah restrukturisasi bisnis B2B antar negara.

Purbaya meminta Danantara lakukan restrukturisasi memang itu benar, karena BUMN itu saat ini dividen nya masuk ke Danantara bukan lagi ke APBN.

Namun menjadikannya utang jangka panjang begitu lama sebagaimana usulan LBP itu suatu hal yang sangat tidak logis dan sangat memberatkan pengelolanya yakni konsorsium PT.KIA, Wika CS, kata Erick

40 tahun aja sudah sangat lama sekarang mau bikin beban baru jadi 60 tahun itu sangat tidak profesional untuk urusan yang sudah bebani negara dan rakyat, kata Erick

Semestinya yang di restrukturisasi itu adalah bunga utang yang 3,4 persen itu agar turun menjadi 1-1,5 %. Agar bisnis Whoosh itu menjadi lebih sehat dan tidak menjadi beban negara dan rakyat berkepanjangan.

Jadi bukan jangka waktu nya yang di restrukturisasi.
Walau cicilan utangnya menjadi lebih kecil kalau utang 60 tahun Itu sama saja perjanjian utang Whoosh itu diminta diurus 6 presiden Indonesia ke depan, kalau setiap presiden nya 2 priode. Itu sangat tidak wajar, itu bukan usulan bisnis yang layak. Itu bukan restrukturisasi yang benar, kata Erick

Sejalan dengan langkah restrukturisasi yang akan dilaksanakan oleh Danantara, semestinya proyek Whoosh yang sarat masalah ini agar di audit secara finansial dan audit fisik dulu oleh tim BPK dan kalangan ekonom independent. Pemerintah semestinya bentuk tim audit total dahulu.

Kejanggalan adanya Mark up yang di tuding banyak tokoh terutama Mahfud MD, DR. Anthoni Budiawan maupun Ikhsanuddin Nursi itu mesti di respon baik oleh BPK dan KPK.

Menurut Erick, dalam audit nanti itu perlu di periksa secara akunting yang benar dan akuntabel. Benarkah ada mark up sebesar 1,6 milyar US $ setara 25 Trilyun itu. Karena dari awal saat rencana oleh Jepang diajukan 60 Trilyun dengan pola G2 G itu bunganya cuma 0,1 % dan bahkan selama proyek berjalan itu ada Grace period juga sebagaimana dipaparkan Anthony Budiawan tadi malam di I News TV.

Bahkan proyek itu diindikasi terdapat “transaksi gelap” dalam kenaikan dari 90 Trilyun ke 116 Trilyun, sebagaimana di ungkap DR. Ubedillah Badrun juga.

Menurut Anthony , kemudian di era Jokowi menjadi beralih ke China dengan B2G dengan anggaran 90 Trilyun dan dalam perjalanan proyek membengkak menjadi 116 Trilyun dengan bunga 3,4 %. Hal itu memang bunganya menjadi sangat memberatkan bagi Whoosh karena dalam dolar AS, kata Erick

Ini semua memang harus di ungkap. Mengapa bisa sebesar itu kenaikan hampir 100 persen biayanya. Demikian juga bunga 0,1 % oleh Jepang menjadi 3,4 % saat dibiayai China. Pantesan tahun pertama aja bunga utang Whoosh itu sebesar 2 Trilyun setahun.

Jadi BPK dan tim audit independent juga perlu audit finansial seluruh biaya biaya proyek yang dianggarkan dan audit fisik juga baik harga material, spek material, pelepasan tanah, legalitas dan sebagainya. Apakah memang biaya nya semua sebesar 116 Trilyun, kata Erick

Demikian juga perlu di pertanyakan bagaimana posisi konsorsium China Railways di KCIC karena mereka pemegang saham 40 %. Apakah mereka ada modal pendanaan masuk sejak awal proyek berapa besar kalau ada. Apakah mereka juga ikut ber utang ke Bank of China atau yang ber utang itu hanya konsorsium KCIC saja dan KCIC yang nanggung semua utang.

Kalau mereka gak ada ikut equity dan modal ikut selama membangun proyek untuk apa mereka dapat saham 40%, tanya Erick

Juga agar diteliti juga banyak pertanyaan masyarakat, jangan-jangan di dalam saham 40 % milik konsorsium China railways itu diduga ada nebeng masuk saham milik pejabat tinggi atau mantan pejabat tinggi indonesia dengan gunakan korporasi cangkang yang berdomisili di Singapore, Hongkong atau China.

Ini juga jadi dugaan publik terkait dengan tudingan Mark up dan dugaan korupsi yang beredar liar sebulan ini, tambah Erick

Jadi ini mesti clear semua. Harus jelas agar transparan ke rakyat indonesia semuanya. Karena beban Whoosh itu di bebankan ke tiket penumpang dan utang nya menjadi tanggungan Danantara untuk ajukan restrukturisasi.
Danantara itu kan juga milik negara berarti ya milik rakyat Indonesia, tambah Erick.

Ini semua harus di audit secara lengkap. Sehingga tudingan Mark up dan adanya korupsi dapat di beresin dulu sembari pihak Danantara lakukan restrukturisasi yang profesional dan berpihak kepada kepentingan rakyat dan negara, tutup Erick.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.