REDENOMINASI MATA UANG. LANGKAH AWAL UNTUK INDONESIA BUBAR?
Oleh : William Win Yang – Busienss Strategist – Best Selling Business Author
Akhirnya, setelah sekian lama jadi gosip, akhirnya tahun depan kita jadi juga meredenominasi mata uang kita, dengan menghilangkan 3 nol dari mata uang kita. dengan kata lain : dari 1000 diubah ke 1. Suatu keputusan yang katanya dapat menghemat kekuatan komputasi kita karena kebanyakan nol, dan mempermudah kita melakukan perhitungan, meningkatkan kredibilitas uang kita, karena nol nya tidak kebanyakan seperti Zimbabwe, dan lain sebagainya. Yah mungkin saja, namun demikian, mengingat sejarah bangsa kita yang senantiasa kerja asal jadi, asal-asalan, menggampangkan segala sesuatu, bahkan bangga bisa kerja asal-asalan, dan membodoh-bodohi orang yang terlalu perfeksionis, kita jelas perlu merasa khawatir, mungkin saja ini bisa jadi bencana nasional yang tidak kita antisipasi sebelumnya. Dan yaaa… kita perlu curiga, apakah kebijakan ini sebenarnya adalah muslihat licin untuk korupsi? Atau mungkin hal tercela lainnya?
Mari kita bahas satu per satu…
Resiko salah input
Jika kita masukan uang ke teller bank… sebagian uang rupiah baru yang sudah dihilangkan nolnya, sebagian rupiah lama yang masih banyak nolnya, kepada seorang teller bank yang kebetulan kelelahan dan ngantuk karena kerja lembur, kira-kira dia akan melakukan input 100 atau 100.000? bedanya Rp.100.000 dan Rp.100 juta loh.
Pada jaman pak Karno, Redenominasi dilakukan jaman teknologi masih manual. Jadinya saat teller melakukan input salah, pada jam tutup kantor akan dilakukan audit ulang untuk menyamakan jumlahnya, dan jika ada perbedaan perhitungan, akan dilakukan perhitungan ulang, bahkan sampai lembur, sampai balance sheet nya dan jumlah uang yang ada sama. Jika ada kesalahan menulis di buku tabungan, akan dikirim orang untuk menemui si nasabah, untuk memperbaikinya. Mudah menghapus dan menambah angka tanpa menyebabkan guncangan pada sistem. Hanya saja prosesnya memang lambat sekali saat itu. dan untuk info aja, untuk mencairkan uang anda di bank, butuh waktu verifikasi sangaaat lama. (Maklum manual). Maka itu, pada jaman dahulu Bank memang sekedar sarana menyimpan uang bagi kebanyakan orang. Sementara itu, uang operasional sehari-hari masih di simpan di rumah.
Sedangkan jaman sekarang, dimana serba digital, begitu uang masuk ke teller bank, langsung tertulis di mobile banking kita, dan langsung bisa kita belanjakan. Kita bisa saja berargumen : ah kan bisa di revisi nanti saat dilakukan audit. Iya, tapi sebelum itu terjadi, begitu kita menyadari si teller salah input, akan ada banyak orang yang berpikir culas dan langsung membelanjakannya, atau kalau jumlahnya sangat teramat signifikan melampaui pendapatannya selama ini, maka dia akan pindahkan ke Crypto, kemudian buron dengan riang gembira.
Eh, tapi kan bisa kita buat 2 teller. Satu yang menerima uang lama, dan satu menerima uang baru… yaaa bisa, tapi ini artinya kerjaan tambahan bagi bank, perlu SOP baru, biaya baru, dan tanggung jawab baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Dan ini tidak hanya berlaku bagi bank. Tapi juga bagi perusahaan Asuransi, leasing, dan lain-lain.
Apa sistem fintech kita siap dengan perubahan ini?
Ini rasanya yang paling berat. Karena sistem fintech kita beroperasi 24 jam non stop. Apalagi bank besar seperti BCA, Mandiri, BNI, BRI, dan lebih gila lagi QRIS. Dan semuanya bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, di topang oleh teknologi sekelas Best24 yang bekerja 24 jam. Bayangkan jika ada nol yang harus dihilangkan 3….. apa sistemnya siap? Gimana jika terjadi slip sedikiiiiit aja?
Bayangkan, jumlah transaksinya banyak, nilai transaksinya banyak, nasabahnya banyak, dan kecepatannya sangat tinggi… dengan ukuran sebesar itu, kelebihan 1 pencatatan nol, atau kehilangan beberapa nol, atau koma yang bergeser, dampaknya bisa sangat teramat signifikan dan menyebabkan bencana nasional. Ada seseorang yang akan kaya mendadak, dan sebagian lagi miskin mendadak.
Jika demikian siapa yang bertanggung jawab? Ya, kita bisa menunjuk si ini dan si itu untuk bertanggung jawab… Tapi…… Bagaimana jika yang bertanggung jawab itu merasa bebannya terlalu berat dan memilih menyatakan bangkrut? Bagaimana jika yang bertanggung jawab itu tidak mau bertanggung jawab dan memilih buron, karena takut di kriminalisasi? Kalaupun ada yang bersedia tanggung jawab, sistem akan down dan menyebabkan nasabah menjerit karena uangnya tidak dapat diakses (kira-kira apa yang dilakukan rakyat kecil yang tidak bisa mengakses uangnya ya?). Dan selama proses sebelum down itu, bagaimana kalau ada uang yang sudah di tarik dan dipindah ke crypto? Bagaimana jika ada yang tidak bersalah tapi dituduh bersalah, karena alogaritma menganalisa uang mereka kebanyakan? Bagaimana cara si nasabah mengeluh dan membela diri? Kalaupun kamu bisa membuat sebuah SOP… bayangkan jumlah aduan yang sangat banyak sampai jutaan aduan dalam waktu bersamaan.
Siap?
Sebagai bayangan : sampai saat ini BCA, bank paling top se Indonesia itu, masih menggunakan Core Banking tahun 80an (tercanggih pada jamannya). Sudah sangat ketinggalan jaman. Mereka mau mengganti, namun tidak berani. Kenapa? Karena satu nol atau satu koma saja geser, maka beresiko terjadi bencana nasional.
Sekarang… apa kita siap?
Resiko inflasi
Nah ini yang saya dengar dari almarhum paman saya yang waktu itu mengalami sendiri redenominasi jaman pak Karno. Katanya, saat redenominasi dilakukan, orang entah bagaimana berasa lebih kaya, dan tidak sadar saat tagihan bernilai 4, langsung ditagih 5. Mereka berasa kecil, walaupun sebenarnya sama saja. Akibatnya, harga-harga dengan cepat naik, dan ditambah pemerintah yang terus mencetak duit untuk kebutuhan ini dan itu, maka nol di uang kita dengan segera banyak kembali.
Cetak duit dengan percaya diri
Dan, omon-omon tentang cetak duit. Nilai uang yang kecil nominasinya, membuat efek psikologis bagi pemerintah seolah mata uangnya kuat, dan menjadi lebih ringan hati saat memutuskan mencetak uang banyak-banyak, yang efeknya tanpa disadari, dalam beberapa tahun, nol kita akan kembali banyak. Kenapa? Bukan sekedar karena uang kita yang dicetak terus, tapi ada orang diluar sana yang melihat kondisi ini dengan hitungan yang lebih logis, memandang kita seperti burung nazzar yang mengamati mangsanya, bersiap melakukan posisi short terhadap rupiah, menggiring kita pada kehancuran ekonomi dan politik, kemudian memangsa bangkai kita beramai-ramai.
Mereka adalah para investor kelas kakap… para spekulan kelas kakap… orang-orang yang disebut dalam buku “Dragon Slayer Trading Strategy” sebagai para “Kaiju”. Raksasa yang mengendalikan uang banyak sekali… yang jika mereka melihat kita terus mencetak uang, yang beresiko menggerus nilai uang kita, mereka kemungkinan akan melakukan aksi buang rupiah sebagai langkah untuk melindungi diri dari investasi beresiko, atau sekedar untuk spekulasi dan mengeruk keuntungan besar. Yang mana, saat mata uang kita sangat terpuruk seperti 1998, kemudian terjadi revolusi yang menyebabkan Indonesia bubar (seperti ramalan seseorang). Mereka akan masuk kembali membeli aset-aset kita dengan harga sangat teramat murah.
Yup, dunia bisa sekejam itu kawan. Demi keuntungan pribadi, mereka akan biarkan anda tenggelam dalam inflasi dan chaos. Jangan berpikir kita akan dikasihani. Apalagi jika gank Yahudi seperti Soros atau Rothschilds mulai mencium bau darah. Apalagi, jika saat ini kita dekat sekali dengan musuh mereka : BRICS
Apa sudah diperhitungkan?
Negative thinking
Ada yang bilang : ah pak Will berpikiran negative, saya yakin pemerintah sudah siap dan memperhitungkan segala sesuatunya…
Jawab : memang itu maksud saya, supaya mereka siap dan memperhitungkan segala sesuatunya. Toh tanggung jawab pelaksanaan ini bukan di tangan kita… jeritan-jeritan kita di sosial media tidak akan mampu mengubah naik turunnya mata uang, atau membuat sistem yang ngaco tiba-tiba benar kan?
Dan yes, bukan berarti proyek ini akan seperti yang saya proyeksikan. Mana tau bisa sukses secara ajaib… who knows
In the end, ijinkan saya mengutip quotes dari buku The Mandate of Heaven :
Jika suatu kejahatan dibiarkan sekian lama dan tidak ada yang bertindak,
Maka diperlukan kejahatan yang jauh lebih besar untuk menghentikannya
Dan kejahatan itu nantinya akan jadi kebenaran
~Khrisna pada Arjuna~
Bagavad Gita
Beberapa skenario celaka yang mungkin terjadi :
1. Apa fintech kita siap menerima perubahan ini?
2. REDENOMINASI menjadi celah merampok tanpa terasa
3. Secara psikologis, jadi nyaman untuk terus mencetak uang, dan akhirnya nol kita akan kembali seperti semula, seperti jaman ORLA dulu





















