Home Kolom Soal Media Daring: Antara Kemajuan Informasi dan Tantangan Literasi Digital

Soal Media Daring: Antara Kemajuan Informasi dan Tantangan Literasi Digital

89
0
AENDRA MEDITA/doc jaksat

Soal Media Daring: Antara Kemajuan Informasi dan Tantangan Literasi Digital

Catatan dari Cilandak Aendra MEDITA*)

ADA yang menarik dikatakan Renee Hobbs  seorang akademisi dan pendidik Amerika yang berkarya di bidang pendidikan literasi media. Ia adalah Profesor Studi Komunikasi di Harrington School of Communication and Media. Renee Hobbs menekankan bahwa pendidikan literasi media penting untuk membantu orang memahami media dengan lebih dalam, tidak hanya sebagai konsumen pasif, tapi mampu mengolah informasi secara kritis.

“Dengan sedikit atau tanpa verifikasi fakta, misinformasi dan disinformasi dapat menyebar seperti api di media sosial,” demikian diingatkan sebuah panduan literasi — menunjukkan betapa rentannya pengguna yang tidak kritis terhadap informasi daring.

Di era digital yang terus berkembang, media daring hadir sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah komunikasi manusia. Ia meruntuhkan batas ruang dan waktu, mengubah cara kita berinteraksi, memperoleh informasi, bahkan cara kita membentuk opini dan mengambil keputusan. Namun, di balik segala kemudahan dan kecepatannya, media daring juga menyimpan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Di sinilah kita sebagai pengguna dituntut memiliki kecerdasan dan kewaspadaan, agar tidak menjadi korban dari arus informasi yang tak terbendung.

Media daring, sesuai namanya, adalah media yang hidup dalam jaringan internet. Jika dahulu kita harus menunggu koran terbit keesokan hari atau menonton berita di televisi sesuai jadwal, kini informasi datang kepada kita dalam hitungan detik, bahkan sebelum sebuah peristiwa benar-benar selesai terjadi. Fenomena ini menjadikan media daring sebagai pusat perhatian, sekaligus sebagai arena utama dalam pertarungan informasi di abad ke-21.

Salah satu kelebihan utama media daring adalah kecepatan penyebaran informasi. Peristiwa apa pun, di belahan dunia mana pun, dapat langsung diketahui publik. Dalam konteks demokrasi, hal ini memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk lebih terinformasi, kritis, dan aktif terlibat dalam urusan publik. Netizen—sebutan pengguna internet—tidak hanya menjadi penonton pasif, melainkan juga produsen informasi. Media sosial memungkinkan semua orang untuk menyuarakan pendapat, berbagi pengalaman, bahkan melakukan kritik sosial.

Namun, kecepatan itu ibarat pedang bermata dua. Informasi yang menyebar terlalu cepat seringkali belum melalui proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, hoaks, misinformasi, dan disinformasi pun tumbuh subur. Media daring yang semestinya menjadi sumber pencerahan, kadang justru menjadi sumber kebingungan dan konflik. Contoh yang paling nyata dapat terlihat saat momen pemilu, bencana, atau isu-isu sensitif lainnya: informasi palsu dapat memengaruhi opini publik, bahkan merusak hubungan sosial.

Selain itu, algoritma media sosial memiliki kecenderungan menampilkan konten yang menyesuaikan preferensi pengguna. Hal ini secara tidak sadar membentuk echo chamber, di mana kita hanya mendengar hal-hal yang ingin kita dengar, dan melihat kebenaran sesuai versi kita sendiri. Di titik ini, media daring bukannya memperluas wawasan, tetapi justru membatasi perspektif.

Kemudahan akses media daring juga melahirkan fenomena baru: banjir informasi. Kapasitas otak manusia terbatas untuk menyaring apa yang penting dan apa yang sepele. Setiap detik, layar gawai kita dipenuhi notifikasi, berita trending, dan opini viral. Sayangnya, konten yang viral belum tentu benar atau bermanfaat. Sering kali, konten yang lebih sensasional dan provokatif mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan berita berkualitas. Hal ini menggeser logika masyarakat dari “yang penting adalah fakta” menjadi “yang penting adalah yang ramai dibicarakan”.

Di sisi lain, media daring juga mengubah dunia jurnalistik. Wartawan dituntut untuk publikasi cepat, karena jika terlambat beberapa menit saja, mereka bisa kehilangan pembaca. Akibatnya, kualitas penulisan dan ketelitian dalam memeriksa fakta kadang dikorbankan demi klik dan impresi. Jurnalisme kini berada dalam posisi dilematis: antara menjalankan fungsi edukatif atau mengejar statistik dan popularitas. Dalam konteks ini, kehadiran literasi digital menjadi sangat penting.

Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan internet atau aplikasi, tetapi kemampuan untuk memilah informasi, memahami konteks, dan bersikap kritis terhadap konten yang dikonsumsi. Kita harus mampu bertanya: Apakah informasi ini berasal dari sumber terpercaya? Apakah ini opini atau fakta? Adakah bukti pendukungnya? Dengan demikian, masyarakat tidak mudah terprovokasi dan dapat menjadi konsumen informasi yang cerdas.

Lebih jauh lagi, media daring memengaruhi aspek sosial dan psikologis manusia. Interaksi di dunia maya bisa memberikan rasa kedekatan, tetapi juga menciptakan jarak emosional di kehidupan nyata. Orang-orang berlomba menampilkan versi terbaik dari diri mereka, sehingga tekanan sosial meningkat. Perbandingan sosial yang berlebihan dapat memicu kecemasan, depresi, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Ironisnya, di dunia yang sangat terhubung ini, banyak orang justru merasa kesepian.

Meski begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa media daring telah memberikan banyak manfaat besar. Ia membuka peluang baru dalam pendidikan, bisnis, seni, hingga gerakan sosial. Banyak UMKM yang bisa bertahan dan berkembang karena media daring. Banyak talenta baru yang muncul dan dikenal luas karena platform digital. Bahkan, di saat dunia dilanda pandemi, media daring menjadi penyelamat interaksi manusia—mulai dari sekolah daring, rapat kerja virtual, hingga akses layanan kesehatan.

Di sinilah letak keseimbangan yang harus kita cari. Media daring bukan musuh, melainkan alat. Ia dapat menjadi jembatan pengetahuan atau jurang kesalahpahaman, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bekerja sama membangun ekosistem digital yang sehat: regulasi yang jelas, edukasi literasi digital, serta perilaku pengguna yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, media daring mencerminkan siapa kita sebagai masyarakat. Jika kita mengisinya dengan ujaran kebencian, hoaks, dan sensasi, maka media daring akan tumbuh menjadi ruang yang penuh keributan dan kepalsuan. Namun jika kita menggunakannya untuk berbagi ilmu, empati, dan kontribusi positif, media daring dapat menjadi ruang yang memperkaya pikiran dan memperkuat nilai kemanusiaan.

Bersama Prof. MASAAKI OKAMOTO

Kita sedang hidup di era di mana sentuhan jari dapat menggerakkan dunia. Kekuasaan informasi ada di tangan kita. Pertanyaannya adalah: apakah kita siap memikul tanggung jawab itu?

Saya jadi ingat pada tahun 2014, saya diundang khusus ke Jepang, tepatnya di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University Jepang. Oleh Prof. Masaki Okamoto  ahli dalam ekonomi politik di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), saya sebagai jurnalis senang bisa menyampaikan pengalaman jurnalis saya soal dunia perkembangan pemilu 2014.

Okamoto juga selalu mengajak teman di Jepang yang ada hubungan dengannya jika ke Indonesia pasti akan disuruh jumpa dengan saya. Okamoto ini jaringannya luas, peneliti di dunia dari sejumlah negara ia banyak kenal dan beberapa kali saya sering diajak untuk berjumpa. Di lembaga yang banyak sekali peneliti seperti LIPI (kini BRIN) ia juga dikenal.

Sebenarnya saya bukan siapa-siapa, tapi Okamoto ini menganggap saya punya banyak jaringan sehingga sampai kini lebih dari 17 orang yang dikenalkannya masih terjalin komunikasi baik dengan saya. Mereka adalah orang Jepang, ada dosen, jurnalis di NHK ada juga yang bertugas diplomatik di kedutaan dll.

Sebenarnya kisah yang menarik dari Okamoto dengan saya masih banyak. Saat itu internet belum seperti sekarang, media konvensional atau analog ini masih sangat sedikit pula.

Kembali soal Media daring yang saat ini makin seru dengan kisah-kisah kekinian yang terjadi. Politik menjadi konsumsi tambahan di tengah jelang mkan siang ini. Bahkan kami diskusi tentang yang hangat selalu soal Pilpres. Sebagai Jurnalis mencoba membuka dua cakrawala yang masih menganut jargon lama “Media is the forth estate”, atau Media is a watch dog” semoga saya masih pegang ini.

Sebenarnya undangan saya  menjadi pembicara paska Pilpres 2014 di Kyoto University, tepatnya di lembaga CSEAS- Kyoto University yang bicara Associate Prof Okamoto waktu itu, Saya dan Prof Jun Honna dari Ritsumeikan University, Jepang. Temanya “The 2014 Presidential Election and the Role of Social Media”. Banyak mahasiswa Okamoto dan juga sejumlah kawan-kawan dari Indonesia yang sedang studi di sana hadir. Yang muncul akhirnya tercuat soal media daring itu. Dimana Media daring adalah peluang besar—jangan sampai berubah menjadi ancaman karena kelalaian dan kurangnya pemahaman. Dan banyak yang memainkan kan ini untuk pencitraan. Dan terbukti banyak dan kejadian juga banyak yang kecewa akhirnya.

Media daring selain peluang besar saya melihat harus kuat dengan menjadikan pengguna yang bijak, kreatif, dan kritis. Karena pada akhirnya, dunia digital yang baik bukan hanya soal teknologi yang canggih, tetapi juga tentang manusia yang mampu menggunakan teknologi itu dengan kebijaksanaan. Jangan sampai menyesal dan ruginya banyak untuk publik. Bukannya media adalah sebagai penetrasi yang harus memberikan kecerdasan dan kemajuan Informasi dan Tantangan Literasi Digital yang hakiki. Ya…kan?

*) Jurnalis Senior dari Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) & Jala Bhumi Kultura (JBK).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.