Apakah Ada Menteri yang disebut-sebut Bertanggung jawab Akan Mundur dengan Elegan?
JAWABANNYA Mustahil….
Ada tiga menteri yang layat mundur di bencana Sumatra? Pertama Raja Juli Antoni yang berwenang dalam memberikan izin dan pengawasan kehutanan. Lalu Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM yang berwenang memberi izin penambangan dan izin pemanfaatan kawasan hutan, termasuk pengawasan atas izin tersebut. Selanjutnya Hanif Faisol, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menerbitkan izin AMDAL.
Pernyataan itu dari Iqbal dari GreenPeace. “Jadi ketika ada bencana seperti ini, berarti ada fungsi mereka yang tidak bekerja. Apakah fungsi pengawasan atau pengendalian. Atau mereka melakukan pembiaran. Pembiaran dalam administrasi itu sebuah kesalahan. Pura-pura tidak tahu,” tegas Iqbal.
Ia bahkan menyatakan bahwa langkah hukum bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Dengan kritik keras tersebut, Greenpeace patut diacungi jempol karena dalam perjalanan kehidupan bernegara, selalu ada masa ketika seorang pemimpin berdiri di persimpangan tersulit: antara mempertahankan jabatan yang penuh kehormatan, atau melepaskannya demi kehormatan yang lebih tinggi. Memang di Indonesia sangat langka dan jarang terjadi, makanya Mustahillll
Keputusan seperti ini tidak muncul di ruang hampa di Indonesia; ia terbentuk dari pengalaman, tekanan batin, dan kejernihan hati yang muncul setelah melihat penderitaan rakyat yang tak mampu ditolong oleh kebijakan yang seharusnya melindungi mereka.
Di sebuah gedung pemerintahan yang megah namun kini terasa sunyi, seorang pejabat berdiri lama di depan jendela besar yang menghadap ke arah barat. Matahari senja memecah warna oranye di gedung-gedung di kejanggalan, dan di balik pegunungan yang tak terlihat dari tempatnya berdiri, Sumatera tengah ketakutan. Hujan besar beberapa minggu terakhir memicu longsor, banjir bandang, dan kerusakan yang tak terbayangkan. Ratusan rumah hilang, ribuan jiwa mengungsi, dan sebagian masih mencari keluarga yang belum kembali. Laporan demi laporan yang tergeletak di mejanya, menumpuk seperti beban yang tak pernah usai.
Pejabat itu menarik napas panjang. Setiap halaman laporan bencana seperti menyuarakan satu hal yang tidak pernah tertulis: kegagalan. Kegagalan sistem, kegagalan mitigasi, kegagalan koordinasi. Tetapi hal yang paling keras dalam pemahaman saya adalah kemungkinan bahwa kebijakannya sendiri tidak cukup kuat, tidak cukup cepat, tidak cukup mampu untuk mencegah apa yang terjadi. Dan di sanalah, dalam diam ruangan itu, ia mulai bertanya: apakah masih pantas ia berada di kursi yang kini hanya terasa berat, bukan terhormat?
Selama ini, ia selalu percaya pada nilai tanggung jawab. Ia tahu bahwa jabatan itu amanah, bukan hak istimewa. Ia juga tahu bahwa seorang pemimpin harus siap berdiri paling depan ketika keadaan sedang membaik — namun yang lebih penting lagi, siap memimpin kepala ketika keadaan memburuk. Namun kenyataan politik seringkali berbeda. Banyak pejabat bertahan dengan berbagai alasan: agar roda administrasi tetap berjalan, agar program yang belum selesai bisa dirampungkan, atau sekadar karena tekanan politik yang membuat pengajuan diri tampak seperti kelemahan.
Tetapi ia tidak ingin menjadi bagian dari budaya tersebut. Bukan setelah melihat wajah-wajah warga yang kehilangan tempat tinggal, bukan setelah mendengar tangis anak-anak yang belum mengerti mengapa dunia mereka berubah dalam satu malam, bukan setelah menerima laporan bahwa beberapa daerah yang seharusnya mendapatkan peringatan dini tidak menghabiskan waktu yang tepat. Mungkin bukan salah satu pihak saja, tetapi ia merasa bahwa sebagian tanggung jawab ada padanya. Dan tanggung jawab itu tidak bisa ditebus hanya dengan konferensi pers atau pertemuan darurat.
Dengan hati yang berat namun tegas, ia mulai menuliskan sepucuk surat. Bukan surat panjang penuh pembelaan diri. Ia menolak mencari alasan atau menemukan kesalahan pada pihak lain. Sebaliknya, ia ingin surat itu menjadi cermin dari apa yang ia yakini sejak lama: bahwa seorang pemimpin harus berani mundur sebelum diminta mundur, karena kehormatan tidak datang dari jabatan, melainkan dari ketulusan hati.
Di paragraf pembuka, ia menyampaikan duka mendalam bagi seluruh korban. Ia menulis dengan kata-kata yang hati-hati, mencoba memastikan bahwa setiap kalimat mencerminkan empati, bukan formalitas. Ia berbicara tentang keluarga yang kehilangan rumah, tentang para relawan yang bekerja tanpa lelah, tentang aparat lapangan yang mempertaruhkan nyawa di tengah derasnya arus udara. Ia menyampaikan bahwa bencana ini adalah pukulan bagi bangsa, tetapi pukulan terbesar bagi dirinya menyadari bahwa sistem yang ia pimpin belum cukup melindungi mereka.
Di paragraf berikutnya, ia menuliskan kejujuran yang sudah lama mengganggu pikiran: bahwa ia merasa tidak lagi menjadi orang yang paling tepat untuk memimpin pemulihan ini. Bukan karena dia tidak peduli, tetapi karena dia merasa bahwa diperlukan energi baru — seseorang dengan perspektif berbeda, mungkin dengan semangat yang lebih segar, mungkin dengan pendekatan yang lebih inovatif. Ia tidak ingin menjadi penghalang perubahan hanya karena gengsi mempertahankan posisi.
Keputusan untuk mundur bukanlah keputusan yang mudah. Ia mengerti bahwa langkah ini akan menimbulkan pertanyaan, spekulasi, bahkan kritik. Ada yang mungkin menyebut lari dari tanggung jawab, ada yang membuat rencana dramatis, dan ada pula yang melihatnya sebagai langkah politik. Namun ia tahu bahwa kritik adalah bagian dari kehidupan masyarakat, dan karenanya, kritik itu tidak sebanding dengan luka batin yang ia rasakan ketika setiap hari membaca laporan korban baru.
Dalam surat itu, ia menulis bahwa pengunduran dirinya bukan akhir dari pengabdiannya. Ia berjanji akan tetap mendukung upaya pemulihan, membantu memberikan masukan jika diminta, dan hadir bersama masyarakat sebagai warga biasa yang peduli. Ia ingin menunjukkan bahwa pengabdian tidak berhenti hanya karena kehilangan jabatan.
Setelah selesai menulis, ia membaca ulang surat itu tiga kali. Tidak ada kalimat yang ia sesali, tidak ada kata yang ingin ia tarik kembali. Ia tahu bahwa inilah saatnya. Ia menandatangani surat itu dengan tangan yang sedikit bergetar — bukan karena ragu, tetapi karena merasa lega. Beban yang selama ini menghimpit dada perlahan meluruh.
Ketika ia keluar dari ruangannya dan berjalan melewati lorong yang panjang, ia memperhatikan setiap langkahnya. Langkah yang berbeda dari biasanya, lebih pelan, tetapi lebih mantap. Ia sadar bahwa dirinya mungkin akan dikenang bukan karena jabatan yang pernah ia duduki, tetapi karena keputusan yang ia ambil hari ini. Keputusan untuk mundur bukan sebagai bentuk kekalahan, melainkan sebagai bentuk keberanian moral.
Di depan pintu besar tempat ia akan menyerahkan surat itu, ia berhenti sejenak. Ia menarik napas dan tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya sejak bencana itu terjadi, ia merasa bahwa ia melakukan hal yang benar. Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan ketegasan baru.
Apa keputusan telah dibuat. Dan di tengah duka yang gagal bangsa, ia berharap satu hal: bahwa langkah kecil ini bisa menjadi awal bagi pemulihan yang lebih besar, bagi perubahan yang lebih berarti, dan bagi masa depan yang lebih aman bagi seluruh rakyat. Karena suatu saat, untuk membangun kembali sesuatu yang hancur, seseorang harus terlebih dahulu berani meletakkan apa yang selama ini ia genggam erat.
Dan sampai kini belum ada — bukan karena ia ingin meninggalkan jabatannya, tetapi karena ia telah berdamai dengan dirinya sendiri, bahkan tak tahu malu sama sekali masih aja koar-koar.
AM234




















