Home Kolom Ada dua jenis orang pintar yang saya tangkap dari pidato Presiden

Ada dua jenis orang pintar yang saya tangkap dari pidato Presiden

86
0

Ada dua jenis orang pintar yang saya tangkap dari pidato Presiden.

By AEK

Dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun Partai Golkar—entah yang keberapa—pada Jumat (5/12/2025), saya membaca berita tentang Presiden Prabowo yang bicara soal orang pintar.

Ada dua jenis orang pintar yang saya tangkap dari pidato Presiden.

Orang pintar pertama adalah mereka yang mengkritisi pemerintah dan mencari kesalahan terus-menerus, padahal menurut Presiden, mereka tidak bisa melakukan pekerjaan untuk rakyat seperti membangun jembatan, menciptakan lapangan kerja, atau menjamin ketersediaan beras dan BBM.

Jika demikian adanya, saya hanya bertanya: orang yang tidak cerdas (padahal kritis adalah salah satu prasyarat kecerdasan), sekaligus tidak bisa menciptakan 19 juta lapangan kerja seperti janji kampanye, itu disebut orang apa?

Tidak disebutkan siapa sosok orang pintar jenis pertama ini. Berbeda dengan orang pintar kedua, yang disebutkan langsung contoh konkretnya: Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Ia bahkan disebut bukan hanya pintar atau cerdas, tetapi SANGAT cerdas.

Ada selipan kalimat stereotip tentang orang Indonesia Timur yang dilontarkan Prabowo ketika memuji Bahlil. Misalnya: orang Timur suka berkelahi tetapi cepat meredam emosi; makan banyak sehingga istrinya pasti kerepotan; keras hati tapi setia; dan memiliki sikap negarawan meski suka berpesta.

Entah apa pentingnya menyampaikan stereotip semacam itu dalam pidato pujian. Yang jelas, baru setelah bagian tersebut muncul dagingnya—yaitu alasan mengapa Bahlil dianggap sangat cerdas. Saya awalnya sempat menduga akan ada pencapaian besar dari seorang Bahlil, misalnya penelitian ilmiah soal menambang batubara dengan tenaga dalam atau formulasi doa untuk menentukan titik sumur eksplorasi minyak.

Ternyata bukan itu. Menurut Prabowo, kepintaran Bahlil adalah karena ia pandai menyentuh hati Presiden. Dalam acara tersebut ditampilkan video saat Prabowo masih berjaket kuning Golkar, lalu ditampilkan pula foto almarhum ayahnya. “Tambah jatuh hati, kamu pintar sekali,” kata Prabowo, dikutip Kompas.com (5/12/2025).

Dalam bahasa awam disebut: pandai menjilat.

Bebas saja kita mau suka atau tidak dengan definisi orang pintar seperti itu, tapi pesan kekuasaan sangat jelas: kritis dianggap hama, dan sebaliknya penjilat tampil sebagai panglima yang justru membuat pemimpinnya bangga.

Selain menguatkan tekad menjadi manusia pandir dan rajin berlatih memanjangkan lidah agar piawai menjilat, tampaknya tidak banyak kemajuan yang akan dicapai bangsa ini jika definisi ‘pintar’ menurut pemimpinnya secetek itu.

Sebab, kita perlu mengingat lagi pernyataan lawas Raja Juli Antoni (kini Menteri Kehutanan) bahwa Prabowo adalah “simbolisasi Indonesia, sosok orang yang masa di dekatnya kelam”.

Pertanyaanya, Menhut ini masuk kategori orang apa, Pak?

Salam,
AEK.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.