Home Kolom BEDA PENYEBAB BANJIR SUMATERA DAN JAWA

BEDA PENYEBAB BANJIR SUMATERA DAN JAWA

108
0

BEDA PENYEBAB BANJIR SUMATERA DAN JAWA

Memet Hakim
Pengamat Sosial dan Wanhat APIB

Air dan Api memiliki karakter yang sama, saat sedikit dan bisa dikendalikan sangat ermanfaat buat manusia, akan tetapi jika tidak terkendali dan besar akan mendatangkan bencana. Bencana itu bisa besar atau kecil tergantung pada alam atau keserakahan manusia. Itulah sebabnya lingkungan harus tetap terjaga dan dipelihara. Keserakahan manusia  baik pengusaha ataupun penjabat sangat mempengaruhi kualitas bencana ini. Data Korban Banjir Sumatra-Aceh (9/12): 961 meninggal, 293 masih Hilang (Bisnis.com, 9.12.2025), korban ini sangat besar, terlihat bahwa pemerintah tidak siap atau gagap mengantisipasinya. Partisipasi relawan seperti biasanya, seolah hanya pemerintah saja yang dapat mengatasinya.

Jika curah hujan tinggi dalam waktu singkat, apalagi water holding capasity dalam tanah sudah maksimal maka air hujan yang jatuh ketanah akan run off ke permukaan yang lebih rendah. Secara umum tanah hanya dapat menyimpan air sebanyak 200 mm air hujan saja (sekitar 2.000 m3/ha), selebihnya akan mengalir dipermukaan. Kecepatan aliran air dipermukaan tanah sangat tergantung pada vegetasi & elevasi lahan, jika ada hutan, atau kebun yang lebat, maka air dari langit akan berkurang kecepatannya, karena direm oleh daun dan seresah daun atau rerumputan yang ada diatasnya.

Iklim di Sumatera (Jambi sampai ke Aceh) termasuk kelompok iklim equatorial Dimana umumnya curah huja merata sepanjang tahun, sedang di Sumsel, Puau Jawa, NTT,NTB, Kalsel, Sulsel tergolong iklim munson, dimana ada garis tegas antara musim hujan dan kemarau. Permukaan air laut juga dapat menjadi penyebab banjir (rob).

Menurut BMKG (Kompas 01.12.2025 Curah Hujan pada bulan November di Aceh misalnya termasuk ektrim, bahkan yang tertinggi sampai 411 mm per hari di Kabupaten Bireuen, sedang WHC sudah masimal, artinya ada 406 mm (4.060 m3/ha) seluruhnya mengalir ke bagian yang lebih rendah. Tentu saja akan menyebabkan banjir. Hal yang sama terjadi di Sumatera Utara, Sumbar dan mungkin juga daerah lainnya.

Bahwa kebun sawit ternyata dalam produksi O2 malah lebih unggul dari hutan, tetapi Total respirasinya CO2nya hutan yang lebih unggul. Jadi melihat fungsi hutan dan kebun kelapa sawit relatif sama di dalam lingkungan. Dalam beberapa hal pada kebun kelapa sawit ada Tindakan konservasi tanah, seperti pembuatan rorak dan benteng, bahkan selokan di setiap blok tanaman. Selain itu ada yang disebut gawangan setiap 15-18 m, memangjang sepanjang barisan kelapa sawit, tempat menyimpan pelepah, sebagai bahan organic dan umumnya tumbuh berbagai gulma dilokasi tersebut. Kemudian di beberapa Lokasi sering ditemukan lubang drainase, untuk membantu menampung air.

Penyerapan Karbon Dioksida dan Produksi Oksigen Antara Perkebunan Kelapa Sawit dan Hutan Tropis.

Kebun kelapa sawit mungkin dapat disetarakan dengan hutan sekunder atau lebih baik dari hutan sekunder, akan tetapi produksi Oxigennya lebih tinggi dari hutan produksi/lindung. Jika Penanaman kelapa sawit dengan cara mengolah tanah, tentu itu akan menjadi penyebab erosi, apalagi dilahan berbukit, itulah sebabnya harus segera ditanami Legume Cover Crop untuk mengurangi resiko tersebut.Best Management Praktice memang mensyaratkan Tindakan tersebut. Jika penaman sawit menggunakan metoda kimia, maka resiko erosi jauh lebih kecil.

Akar kelapa sawit dalamnya sekitar 1.5-2 m saja, akan tetapi Panjang kesamping dapat mencapai 14 m, sehingga resiko erosi semakin kecil. Kelapa sawit dan hutan sama2 dapat menahan air tetapi ada batasnya yakni sekitar 2.000 m3/ha, selebihnya akan mengalir ke bawah.

Tanaman sawit sering dituduh menjadi penyebab banjir, rakus air dan merusak lingkungan, padahal penyebab utama non iklim adalah pengolahan tanah tanpa “tindakan konservasi tanah”, “pembukaan lahan dalam skala luas dalam tempo singkat”, “penebangan pohon dalam skala besar.” Dan “kegiatan pertambangan tanpa kendali”. Fakta di lapangan banyak sekali potongan kayu yang hanyut ke Sungai, artinya kegiatan penebangan pohon di dalam hutan terus berjalan. Air begitu cepat mengalir membawa kayu2 gelondongan, artinya tidak ada penegndali arus air lagi, akibat kegiatan pertambangan. Biasanya setelah hutan rusak, ditanamani oleh tanaman Perkebunan seperti sawit dan karet.

Di Jawa Barat, Banten, DKI misalnya  curah Hujannya antara 150-300 milimeter per dasarian (10 hari), padahal evapotranspirasi hanya 4-5 mm saja, sisnya akan run off memenuhi sungai dan meluap ke jalanan, halaman dan seluruh permukaan tanah. Penyebabnya utamanya sama saja adanya yakni Curah Hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat datangnya, akan tetapi faktor lainnya seperti banyaknya hutan beton, sampah, kapasitas gorong2 dan drainase lainnya, kurangnya ruang resapan air dan rusaknya vegetasi di sekitarnya.

Jadi sama-sama banjir, penyebabnya sama yakni factor Curah Hujan tinggi dalam waktu singkat, tetapi faktor yang mempercepat kerusakan itu berbeda. Di Sumatera kontributor yang mempercepat kerusakan adalah pejabat pemberi ijin tebang hutan dan ijin usaha pertambangan serta pengusaha rakus yang tidak memperhatikan konservasi lahan.  DI pulau Jawa kontributor percepatan musibah banjir akibat pemberian ijin pertambangan, real estate dan perencanaan tata kota atau wilayah yang disesuaikan dengan keinginan pengusaha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.