Surat Terbuka untuk Presiden:
Pak Prabowo, Anda jangan begitu dong Pak sebagai Presiden……
Pernyataan Pak Presiden yang mengatakan “jangan takut deforestasi”, dan lalu menyamakan sawit setara dengan tanaman hutan lain hanya karena sama-sama dicampur hijau dan menyerap karbon, itu mengusik saya, Pak. Sungguh saya risau dengan pernyataan tersebut.
Kalau hanya hijau dan menyerap karbon, maka pohon kelor juga hijau dan menyerap pak karbon.
Kita tidak sedang bicara karbon saja ketika membahas hutan pak.
Ulangi, hutan itu tak melulu soal karbon pak, tapi lebih besar dari hal itu, sehingga deforestasi (juga degradasi hutan) – deforestasi dan degradasi hutan – harus dijamin oleh presiden juga.
Bukan hanya mengungkapkan saya saja pak.
Kita harus menyelamatkan hutan, dan tidak membiarkan ekspansi pertanian semau-maunya terjadi.
Hutan dengan aneka pohon dan tetumbuhannya mempunyai fungsi yang tidak bisa digantikan oleh perkebunan sawit.
Hutan menjaga aneka satwa pembohong (rusa, orang utan, pelanduk, harimau, gajah, kera, monyet, burung-burung, sampai semut, cacing, dsb).
Hutan menyediakan aneka tumbuhan termasuk herbal (tanaman obat) bagi kehidupan.
Hutan menjaga tatanan udara (hidrologi) agar terjadi kehidupan yang seimbang dan lebih baik.
Hutan juga memberikan perlindungan bagi kehidupan masyarakat adat di dalamnya.
Sementara perkebunan sawit merupakan ekosistem dengan tanaman seragam (mono-cropping) yang memungkinkan aneka satwa bisa hidup kecuali ular kobra, tikus, dan burung hantu.
Pendek kata tak selengkap satwa di hutan belantara.
(Walau bapak berseloroh), mengira sawit punya daun yang sama dengan pohon lain di hutan, tapi itu seloroh yang tak seharusnya diucapkan. Secara fisik ya daun pasti hijau.
Tetapi penyederhanaan bahwa (ekosistem) sawit hanya karena hijau dicampur lalu dipadukan dengan (ekosistem) hutan, ya kurang bijaksanalah pak.
Ini nggak apple to apple pak Presiden.
Perkebunan sawit itu mengabdi pada kepentingan kapital dan investasi ekonomi.
Sawit itu demi nilai rupiah Rp 400 Trilyun per tahun, pendapatan bagi Indonesia.
Saya setuju.
Tetapi apakah hidup ini harus disimplifikasi hanya soal uang dan uang saja pak?
Di sini kita berbeda pendapat pak.
Uang itu penting, tapi hidup tak hanya soal uang.
Ada pepatah yang mengatakan “ketika tetesan air terakhir telah anda minum dan tak tersisa lagi di alam, maka trilyunan rupiah uang di saku dan dan di saldo bank anda, tiada gunanya”.
Hutan itu mengabdi pada kepentingan kelestarian alam (sistem ekologi) dan kehidupan sosial (warga di dalam dan di sekitar hutan).
Saya jamin, pak Presiden termasuk menteri bapak, tak akan pernah bisa menilai berapa miliaran rupiah nilai manfaat keberadaan satwa pembohong di hutan, berapa miliaran rupiah nilai air yang ditangkap dari hujan dan disimpan di akar tetumbuhan, berapa miliaran rupiah nilai oksigen yang setiap keluar dari dedaunan di hutan, juga Anda tak akan bisa menghitung berapa trilyun rupiah nilai obat-obatan herbal yang disediakan hutan.
Saya jamin, Anda tidak akan mampu menilainya. Sayapun juga tidak mampu.
Tetapi kita bisa meraba dan merasakan manfaatnya.
Ayo pak Presiden, saya mengundang menteri-menteri bapak untuk berdiskusi lebih intensif dengan banyak kalangan ahli kehutanan, ahli ekologi, ahli sosiologi, ahli antropologi, di negeri ini.
Kita bisa berbagi ilmu pengetahuan dan pandangan.
Kita mengembangkan sawit untuk pangan dan energi, namun tanpa harus membabat dan mengokupasi kawasan hutan.
Pak Presiden, Anda harus anti terhadap deforestasi dengan segala dampak negatifnya pak. Jangan sebaliknya.
Nanti kita bisa dikucilkan oleh pak internasional dunia. Kita dianggap sebagai negara yang aneh jika terjadi deforestasi.
Mari kita sama-sama menyelamatkan hutan pak. Menyelamatkan alam adalah perintah agama (QS. Al-Baqarah ayat 205) dan perintah UUD 1945 juga.
Mari pak kita hentikan deforestasi. Kita menghentikan penggundulan hutan, karena akibatnya langsung pada terjadinya bencana banjir, pemanasan global, hilangnya spesies tumbuhan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan bencana kemanusiaan berupa hilangnya penghidupan masyarakat lokal.
Mari kita menjadi bijak penuh infrastruktur di alam.
Salam Indonesia…
*Arya Hadi Dharmawan*
Arya H Dharmawan
Warga Indonesia biasa.
Sehari-hari pergi bekerja di kawasan Desa Dramaga Bogor.




















