“MEDIA, MEDSOS, DAN KEBENARAN YANG DIPEREBUTKAN”
Kita hidup di zaman dimana informasi berjalan lebih cepat daripada pikiran, dan opini lebih dipercaya daripada fakta.
Media dulu adalah penjaga gerbang kebenaran.
Hari ini, gerbang itu roboh.
Semua orang bisa bicara,
tapi tidak semua mau bertanggung jawab.
Media rontok bukan semata-mata karena teknologi,
bukan pula karena kekurangan dana.
Media rontok karena kehilangan arah.
Ketika media mengejar klik,
ia kehilangan nurani.
Ketika media takut pada algoritma,
ia berhenti berpihak pada publik.
Media sosial menjanjikan demokrasi suara,
namun tanpa literasi,
ia berubah menjadi gangguan pasar.
Yang paling keras, bukan yang paling benar,
Itulah yang menang.
Hari ini, hoaks lebih cepat dari klarifikasi.
Fitnah lebih laku dari verifikasi.
Dan kebenaran—
harus berjuang sendiri.
Lalu di mana media berdiri?
Jika media hanya jadi echo chamber kekuasaan,
ia bukan lagi pilar demokrasi,
kecuali dekorasi.
Jika media menyetujui modal dan algoritma,
ia tak lagi mengabdi pada publik,
melainkan pada lalu lintas.
Indonesia hari ini
tidak kekurangan informasi,
tetapi kekurangan keberanian.
Keberanian untuk berkata:
ini salah.
ini manipulatif.
ini ir.
Media masa depan
bukan yang paling cepat,
Namun yang paling jujur.
Bukan yang paling viral,
tetapi yang paling bertanggung jawab.
Dan kepada masyarakat,
kita juga harus jujur:
tanpa publik yang kritis,
media yang merdeka hanya mimpi.
Karena menjaga demokrasi
bukan hanya tugas jurnalistik,
Namun tugas kita semua.
Media bisa berubah bentuk, tapi kebenaran tidak bisa dikorbankan. tabik.
(merah/jaksat/Ton)




















