ENERGYWORLD.CO.ID – Pengamat politik Muhammad Said Didu mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, kepemilikan BUMN atas nikel merosot drastis dari 70-80 persen menjadi hanya 5,6 persen.
Cadangan nikel saprolite Indonesia diprediksi habis dalam 13 tahun, sementara limonit tersisa 33 tahun.
Dalam video yang diunggah Kamis (25/12/2025), Didu menyoroti bahwa program hilirisasi justru menjadi “bungkus” penyampaian tambang kepada asing dan oligarki, terutama Tiongkok.
“Yang lebih ironisnya, perusahaan asing seperti IMIP dan IWIP di Maluku Utara mendapat fasilitas bebas pajak, bebas bea cukai, sementara BUMN yang menguasai 5 persen tersebut tidak mendapat keringanan sama sekali,” kata Didu.
“Hilirisasi bukan berarti mempersembahkan tambang asing dan oligarki. Nilai tambah harus dinikmati rakyat Indonesia dan negara,” sambung Didu. ( Ris )




















