Home Kolom Mencermati Strategi BP Menjadi British Petroleum Bukan Beyond Petroleum

Mencermati Strategi BP Menjadi British Petroleum Bukan Beyond Petroleum

62
0

Setelah lebih dari 20 tahun menjadi pemimpin dalam transisi energi, BP akhirnya menyadari kenyataan yang terjadi. Bisnis terbarukan menghasilkan return (keuntungan) yang kecil sehingga tingkat pengembalian investasi (modal) yang lebih lama. Strategi BP ini tentunya bisa menjadi pelajaran, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berbenah dan melakukan tindakan korektif. Strategi baru yang lebih sesuai dengan kondisi zaman bisa dilakukan tanpa harus menunggu sampai keadaan memburuk.

Oleh: Arcandra Tahar*

       Pada tahun 2000, dunia energi dikejutkan oleh  rebranding  BP dari British Petroleum menjadi Beyond Petroleum. Sebagai salah satu  super major  di bidang  minyak dan gas  dan menjadi panutan banyak perusahaan minyak dunia, mengubah strategi dengan tidak lagi fokus pada bisnis  minyak dan gas  tetapi ke  energi terbarukan  membuat banyak pihak skeptis terhadap keputusan ini. Apakah  rebranding  ini semata-mata untuk memuluskan bisnis  migas  di mata investor, atau memang ke depan  migas  bukan lagi bisnis yang menjanjikan?.

Memang benar bahwa isu perubahan iklim yang digaungkan oleh praktisi lingkungan di awal tahun 2000 membuat perusahaan minyak dunia berpikir ulang akan strategi bisnis ke depan. Tekanan dari sisi regulasi dan ketersedian pendanaan dari investor untuk bisnis energi fosil menjadi faktor yang membuat BP melakukan  rebranding  menjelang kompetitornya.

Tentu saja perubahan strategi dari perusahaan  minyak dan gas  menjadi perusahaan energi tidak serta merta bisa segera dijalankan. Perlu masa transisi dari kebiasaan menggunakan energi fosil yang tinggi emisi karbon ke penggunaan energi non-fosil yang ramah lingkungan. Terjadi perbedaan strategi di antara perusahaan-perusahaan minyak dunia.

BP mengambil inisiatif untuk menjadi  pemimpin  dalam  transisi energi  dengan memberikan lebih banyak investasi dalam bisnis  energi terbarukan . Shell berstrategi dengan mengutamakan bisnis gas yang rendah emisi. TotalEnergies lebih memilih strategi  wait and see  dengan menyeimbangkan bisnis energi fosil dan  terbarukan .

Bagaimana dengan Exxon dan Chevron? Exxon tetap berbisnis di hidrokarbon dan tidak melakukan  rebranding  ke  energi terbarukan . Strategi  dekarbonisasi  (mengurangi emisi karbon) melalui Carbon Capture and Storage (CCS) dijalankan oleh Exxon hingga hari ini. Sedikit berbeda dengan Exxon, Chevron menjalankan pengetatan modal belanja di bidang  minyak dan gas  namun tetap melakukan bisnis di energi fosil dengan sedikit narasi ke energi terbarukan.

Setelah lebih dari 20-an tahun menjadi  pemimpin  dalam  transisi energi , BP akhirnya menyadari realita yang terjadi.  Bisnis terbarukan  menghasilkan  return  (keuntungan) yang kecil sehingga tingkat pengembalian investasi (modal) yang lebih lama. Di banyak negara termasuk Eropa, bisnis  terbarukan  sangat bergantung pada subsidi pemerintah dan regulasi yang berpihak. Tanpa kedua komponen ini, bisnis  terbarukan  menjadi sulit untuk berkembang.

Di pihak lain, bisnis  minyak dan gas  setelah tahun 2021 menghasilkan  keuntungan  yang jauh lebih baik walaupun dengan modal yang sangat besar. Rata-rata pembagian kepada  pemegang saham  juga jauh lebih tinggi sehingga tekanan kepada BP untuk fokus pada  minyak dan gas  semakin besar. Inilah realita yang harus diterima oleh perusahaan yang  go public . Kebanyakan  pemegang saham  lebih peduli terhadap berapa besar deviden dan nilai saham dibandingkan dengan narasi tentang bisnis rendah emisi karbon.

Dengan  kinerja  keuangan yang kurang memuaskan dalam beberapa tahun terakhir, ditambah dengan  valuation gap  yang cukup besar dibandingkan dengan  perusahaan minyak besar  lainnya maka Desember 2025 ini BP memutuskan tiga hal besar.

Pertama menggantikan CEO dari Murray Auchincloss ke Meg O’Neill. Pergantian Murray Auchincloss disinyalir karena ketidakpercayaan investor akan kemampuan membawa BP kembali ke bisnis  minyak dan gas . Meskipun dia sudah mencoba mengurangi investasi  energi terbarukan  tetapi belum cukup untuk meyakinkan investor.

Bagaimana dengan Meg O’Neill? Dia sudah memiliki  rekam jejak  yang mumpuni sebagai CEO perusahaan minyak Australia Woodside Energy. Dia akan menjadi CEO BP pertama yang berasal dari luar BP dan juga perempuan pertama yang memimpin BP.  Pemegang Saham  sangat berharap akan kepiawaian Meg O’Neill untuk berinvestasi di  upstream  dan  downstream  yang memberikan  return  yang besar dan meningkatkan kinerja operasi yang lebih baik.

Langkah kedua yang dilakukan BP adalah menjual sebagian saham anak perusahaan yang  return -nya tidak terlalu tinggi. Yang menjadi korban pertama adalah perusahaan Castrol Lubricant, di mana BP menjual 65 persen sahamnya ke Stonepeak untuk mendapatkan dana sekitar USD 10 miliar. BP masih tetap memiliki 35 persen saham Castrol. Hasil penjualan ini diperkirakan akan digunakan untuk mengurangi utang BP dan membeli aset  upstream  dan  downstream .

Langkah ketiga adalah membeli aset-aset  upstream  yang memberikan  return  yang lebih baik. Salah satu yang baru dibeli adalah lapangan Atlantis Drill Center 1 di Teluk Meksiko AS, di mana produksinya selama ini diolah di Platform Atlantis punya BP. Selain lapangan ini sudah berproduksi, risiko investasi BP juga kecil karena BP sudah punya data yang cukup untuk memutarnya.

Dengan tiga Langkah besar di atas, kita jadi paham bahwa BP sangat serius untuk fokus kembali ke bisnis  minyak dan gas . BP berharap di tahun 2026 akan terjadi peningkatan  kinerja  keuangan, kinerja operasi yang lebih baik dan  return  yang memuaskan investor. Kita tunggu apakah perubahan strategi ini mampu membuat BP seperti yang diharapkan  pemegang saham -nya dan bisnis  bahan bakar fosil  bisa saling mengisi dengan  energi terbarukan  dalam masa transisi ini.

Strategi BP ini tentunya bisa menjadi pelajaran, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berbenah dan melakukan  tindakan korektif . Strategi baru yang lebih sesuai dengan kondisi zaman bisa dilakukan tanpa harus menunggu sampai keadaan memburuk. Semoga dapat memberikan inspirasi untuk sahabat energi semua. Terima kasih. [ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.