Home Kolom #Ngopi Pagi: Etika di Publik di Era Media Sosial

#Ngopi Pagi: Etika di Publik di Era Media Sosial

43
0
Aendra Medita/ist
#Ngopi Pagi: Etika di Publik di Era Media Sosial 
Hai…Halaman selalu punya cara sendiri untuk mengajak kita jujur. Di antara kepulan asap kopi dan cahaya matahari yang pelan-pelan pernyataan dari balik jendela, pikiran menjadi lebih jernih. Dan untuk memperjelas hal itu, muncul satu pertanyaan: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan etika kita di ruang publik hari ini?
Dulu, kita belajar etika dari berkumpulnya. Dari raut tidak nyaman orang lain, dari keheningan yang memberi tanda bahwa batas telah terlampaui. Saat ini, memisahkan kita dari konsekuensi secara langsung. Kita berbicara kepada kamera, bukan kepada manusia. Dan ketika manusia tidak lagi terlihat sebagai manusia, etika pun perlahan kehilangan maknanya.
Hari ini, banyak orang merasa dapat merekam apa saja yang ia temui di ruang publik. Orang yang sedang marah, jatuh, berbeda, bahkan sedang cemas—semuanya bisa berubah menjadi konten. Alasannya beragam: hiburan, edukasi, atau sekadar “ini mungkin kejadian nyata”. Padahal yang sering dilupakan adalah satu hal sederhana:  nyata bagi kita, bisa jadi luka bagi orang lain .
Ada perubahan nilai yang halus tapi berbahaya. Validasi digital menggantikan pertimbangan moral. Like dan share menjadi tolok ukur kebenaran. Viral dianggap lebih penting daripada pantas. Akhirnya, etika tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” melainkan, “Apakah ini menarik?”
Ironisnya, media sosial yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan, justru sering menjauh. Kita sibuk membangun citra, lupa menjaga rasa. Sibuk mengoreksi orang lain, lupa bercermin. Kita ingin didengarkan, tapi jarang mau mendengarnya. Kita menuntut dihormati, tapi sering lupa menghormati.
Etika di ruang publik hari ini bukan sekadar soal aturan tertulis. Bukan tentang larangan atau ancaman hukum semata. Ia hidup di wilayah yang lebih sunyi:  kesadaran batin . Tentang kemampuan menahan diri. Tentang kebijaksanaan untuk tidak selalu bereaksi. Tentang keberanian untuk tidak ikut-ikutan, meski arus sedang deras.
Ada hal-hal yang tidak salah secara hukum, namun tetap salah secara etika. Merekam orang asing tanpa izin. Mengomentari tubuh, pilihan hidup, atau ekspresi orang lain. Membawa urusan pribadi ke ruang publik digital tanpa mempertimbangkan dampaknya. Semua itu mungkin sah secara teknis, tapi miskin secara nurani.
Ngopi pagi ini membuat saya sadar, barangkali masalah kita bukan kekurangan etika, melainkan  kelebihan ego . Kita terlalu ingin diakui, terlalu ingin benar, terlalu ingin dilihat. Padahal, ruang publik tidak pernah diciptakan untuk memuaskan ego individu. Ia ada agar manusia bisa hidup berdampingan, saling menjaga, saling menghormati.
Menjadi beradab di era media sosial adalah pilihan yang semakin mahal. Ia tidak memberi banyak keuntungan instan. Tidak selalu viral. Tidak selalu mendapat tepuk tangan. Tapi justru di sanalah nilainya. Dalam kemampuan untuk berkata, “cukup”. Dalam keputusan untuk berkata, “tidak perlu”. Dalam kesadaran bahwa tidak semua hal harus diumumkan.
Mungkin, etika hari ini perlu didefinisikan ulang. Bukan sebagai pembatas kebebasan, namun sebagai penuntun kemanusiaan. Bukan sebagai aturan kaku, melainkan sebagai kompas batin. Agar kita ingat, bahwa sebelum menjadi pengguna media sosial, kita adalah manusia—dengan rasa, batas, dan tanggung jawab.
Ngopi pagi ini akhirnya sampai pada satu kesimpulan sederhana:  ruang publik—baik nyata maupun digital—akan aman jika kita membawa etika ke mana pun kita pergi . Bukan karena takut disalahkan, tetapi karena sadar bahwa dunia tidak berputar hanya di sekitar kita.
Dan mungkin, di tengah gangguan dunia digital, etika adalah bentuk ketenangan yang paling revolusioner

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.