Home Komunitas Wasekjen IA-ITB Apresiasi Capaian Swasembada Pangan 2025 sebagai Fondasi Kemandirian dan Arah...

Wasekjen IA-ITB Apresiasi Capaian Swasembada Pangan 2025 sebagai Fondasi Kemandirian dan Arah Strategis Kemajuan Republik

69
0

Wasekjen IA-ITB Apresiasi Capaian Swasembada Pangan 2025 sebagai Fondasi Kemandirian dan Arah Strategis Kemajuan Republik

ENERGYWORLD.CO.ID — Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB), Ilma Mauldhiya Herwandi (Teknik Perminyakan angkatan 2015), menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Indonesia atas capaian swasembada pangan nasional tahun 2025. Ia menilai capaian tersebut sebagai tonggak strategis pembangunan nasional yang memiliki implikasi jangka panjang terhadap ketahanan, kedaulatan, dan daya saing Indonesia di tingkat global.

Swasembada Pangan sebagai Pilar Kedaulatan Nasional

Menurut Ilma, swasembada pangan tidak dapat dipahami semata sebagai keberhasilan sektoral di bidang pertanian, melainkan sebagai indikator fundamental dari kemandirian negara. Swasembada pangan mencerminkan kemampuan bangsa dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya secara mandiri, tanpa ketergantungan struktural terhadap negara lain, khususnya pada sektor pangan yang merupakan kebutuhan paling esensial dan menyentuh langsung stabilitas sosial nasional.

“Kemandirian pangan adalah prasyarat dasar bagi sebuah negara untuk menjadi maju. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, negara akan selalu berada dalam posisi rentan secara ekonomi, politik, dan strategis,” ujar Ilma.

Ketahanan Pangan dan Pelajaran Global Pasca-Pandemi

Ilma secara khusus menggarisbawahi bahwa kemandirian pangan memiliki peran krusial dalam mengurangi kerentanan strategi nasional terhadap berbagai risiko eksternal. Ketergantungan pada impor pangan membuat negara rentan terhadap fluktuasi harga pasar global, kebijakan proteksionisme dan restriksi perdagangan internasional, serta gangguan rantai pasok lintas negara.

Ia mencontohkan pengalaman global selama pandemi COVID-19, ketika banyak negara mengalami gangguan serius pada sistem logistik dan pasokan pangan akibat pembatasan mobilitas, penutupan perbatasan, serta disrupsi produksi dan distribusi internasional. Dalam situasi tersebut, negara dengan basis produksi pangan domestik yang kuat terbukti memiliki resiliensi yang lebih baik dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan bagi masyarakatnya.

“Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan pangan bukan isu teknis semata, melainkan isu strategis negara. Swasembada pangan adalah bentuk mitigasi risiko nasional terhadap krisis global yang sifatnya tidak terduga,” jelas Ilma.

Momentum Sejarah Menuju Satu Abad Republik

Lebih lanjut, Ilma mengaitkan capaian swasembada pangan dengan momentum historis bangsa. Saat ini, Indonesia berada pada fase strategis, yakni sekitar 19 tahun menuju satu abad kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2045. Dalam lintasan sejarah tersebut, swasembada pangan dinilai sebagai milestone penting yang mencerminkan kematangan arah pembangunan nasional.

Ia menilai bahwa keberhasilan ini memperkuat fondasi domestik Indonesia dalam mewujudkan visi jangka panjang pembangunan nasional, termasuk agenda Indonesia Emas 2045. Ketahanan pangan yang kokoh memungkinkan negara untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih optimal bagi pengembangan industri, pendidikan, teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Fondasi Menuju Kekuatan Ekonomi Global

Capaian swasembada pangan, menurut Ilma, juga sejalan dengan berbagai proyeksi ekonomi global yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sejumlah kajian internasional memproyeksikan bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 di dunia pada tahun 2050, seiring dengan bonus demografi, ekspansi kelas menengah, dan pertumbuhan sektor industri serta jasa.

Namun demikian, Ilma menegaskan bahwa proyeksi tersebut hanya dapat terwujud apabila Indonesia memiliki fondasi domestik yang kuat dan berkelanjutan. Dalam hal ini, kemandirian pangan menjadi salah satu prasyarat utama untuk menjaga stabilitas ekonomi makro, mengendalikan inflasi pangan, serta memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan tahan guncangan eksternal.

Transformasi Sistem Pangan Nasional Pasca-Swasembada

Memasuki fase pasca-swasembada, Ilma menekankan bahwa tantangan ke depan tidak berhenti pada pencapaian kuantitatif produksi. Agenda utama berikutnya adalah transformasi sistem pangan nasional secara menyeluruh, mencakup peningkatan produktivitas berbasis teknologi, efisiensi rantai pasok, serta integrasi sistem pangan dari hulu hingga hilir.

Arah kebijakan pangan nasional ke depan diperkirakan akan semakin menitikberatkan pada penerapan teknologi pertanian presisi, digitalisasi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya alam yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta penguatan teknologi pascapanen untuk menekan kehilangan hasil dan meningkatkan nilai tambah komoditas pangan nasional.

Peran Strategis ITB dan Alumni dalam Agenda Pangan Nasional

Dalam konteks tersebut, Ilma menilai bahwa dunia akademik memiliki peran strategis yang tidak terpisahkan. Ia menegaskan bahwa Institut Teknologi Bandung memiliki modal keilmuan, tradisi intelektual, dan posisi historis yang relevan dalam mendukung agenda kemandirian pangan nasional.

Secara khusus, keberadaan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian – Rekayasa ITB (SITH-R), yang menaungi bidang Rekayasa Pertanian dan Teknologi Pascapanen, dipandang sebagai aset strategis bangsa. Keilmuan tersebut berperan penting dalam memastikan keberlanjutan swasembada pangan melalui efisiensi proses produksi, pengurangan post-harvest loss, peningkatan kualitas produk, serta penciptaan nilai ekonomi baru bagi petani dan pelaku usaha pangan.

Ilma menilai bahwa momentum swasembada pangan nasional merupakan saat yang tepat bagi alumni ITB untuk menunjukkan kontribusi nyata dan sembah bakti intelektual kepada republik, melalui riset terapan, inovasi teknologi, serta keterlibatan aktif dalam perumusan dan implementasi kebijakan publik berbasis sains.

GIN2 dan Ajakan Konsolidasi Visi Alumni

Lebih lanjut, Ilma, sebagai penggagas semangat juang GIN2 (Gerakan Inovator Nasional 2045), mengajak seluruh alumni ITB untuk semakin bergerak dan mengambil peran aktif dalam agenda pembangunan jangka panjang bangsa. GIN2 diposisikan sebagai kerangka gerak kolektif alumni untuk mendorong inovasi, kolaborasi lintas sektor, dan kontribusi nyata menuju Indonesia Emas.

Menurut Ilma, tantangan Indonesia ke depan tidak dapat dijawab secara parsial atau sektoral. Diperlukan kesamaan visi jangka panjang, konsistensi arah, serta kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi pendidikan tinggi.

Sebagai penutup, Ilma menegaskan bahwa ITB, sejak awal berdirinya, merupakan kampus pergerakan yang melahirkan gagasan besar dan kepemimpinan nasional. Oleh karena itu, Ikatan Alumni ITB dinilai sudah selayaknya mengambil peran sebagai pionir, tidak hanya dalam mengonsolidasikan alumni ITB, tetapi juga dalam mengajak seluruh elemen alumni perguruan tinggi di Indonesia untuk bekerja bersama menuju satu abad kemerdekaan Indonesia.

“Menuju 100 tahun Republik Indonesia, bangsa ini membutuhkan visi bersama dan keberanian untuk bergerak. IA-ITB harus berada di barisan depan sebagai penggerak inovasi, kolaborasi, dan pengabdian nyata demi Indonesia yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan,” pungkas Ilma.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.