Home Kampus Gagas Semangat Juang GIN2, Wasekjen IA-ITB: Inovasi adalah Kunci Kemajuan Bangsa

Gagas Semangat Juang GIN2, Wasekjen IA-ITB: Inovasi adalah Kunci Kemajuan Bangsa

72
0

Gagas Semangat Juang GIN2, Wasekjen IA-ITB: Inovasi adalah Kunci Kemajuan Bangsa

ENERGYWORLD.CO.ID — Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB), Ilma Mauldhiya Herwandi, menegaskan bahwa inovasi merupakan kunci kemajuan bangsa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat akibat disrupsi teknologi dan perubahan global yang masif. Hal tersebut ia sampaikan saat diwawancarai oleh Redaksi di kediamannya, dalam pembahasan mengenai penguatan semangat juang GIN2 (Gerakan Inovator Nasional 2045).

Inovasi sebagai Cara Pandang Strategis Bangsa di Tengah Disrupsi Global

Menurut Ilma, tantangan utama bangsa saat ini bukan terletak pada siapa yang berkuasa atau kebijakan mana yang dominan, melainkan pada kecepatan dunia yang melampaui ritme adaptasi manusia dan institusi. Perkembangan teknologi melahirkan jenis pekerjaan baru, keterampilan baru, serta tuntutan kompetensi yang terus berubah dalam waktu yang semakin singkat.

“Inovasi adalah kunci kemajuan bangsa, karena dunia tidak berhenti menunggu siapa pun yang belum siap,” ujar Ilma. Ia menekankan bahwa realitas ini harus diterima sebagai fakta objektif, bukan sebagai sumber kecemasan atau saling menyalahkan.

Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), inovasi dipahami sebagai cara pandang strategis untuk menjaga daya saing, kedaulatan, dan relevansi bangsa, tanpa kehilangan nilai dasar dan kepentingan nasional di tengah arus globalisasi yang kian intens. Ilma meyakini bahwa inovasi hanya akan membawa kemajuan jika kebebasan dan kedaulatan berjalan beriringan.

GIN2 sebagai Semangat Juang Menghadapi Dunia yang Berubah Cepat

Ilma menekankan bahwa GIN2 adalah semangat juang, bukan sekadar nama program atau agenda kerja. Ia adalah energi mental kolektif yang dibutuhkan bangsa sebelum berbicara mengenai kebijakan, peta jalan, atau target pembangunan jangka panjang.

Di era disrupsi, perubahan sering kali datang bukan secara bertahap, melainkan melonjak. Teknologi baru muncul sebelum masyarakat sepenuhnya siap, sementara keterampilan lama cepat menjadi usang. Dalam kondisi seperti ini, semangat juang menjadi bahan bakar utama pergerakan, agar bangsa tidak terjebak dalam sikap defensif atau ketakutan berlebihan.

“Tidak ada pergerakan tanpa semangat juang. GIN2 hadir untuk menyalakan keberanian menghadapi perubahan, bukan untuk menghindarinya,” tegas Ilma. Menurutnya, mentalitas inilah yang menentukan apakah bangsa akan menjadi pelaku atau korban disrupsi.

Ia menambahkan bahwa semangat juang GIN2 bertujuan menumbuhkan keberanian belajar ulang, keberanian beradaptasi, serta keberanian meninggalkan cara lama yang tidak lagi relevan, demi memastikan Indonesia tetap melangkah maju.

Darwinisme dan Logika Ilmiah Inovasi Bangsa

Pandangan Ilma mengenai inovasi berangkat dari kerangka ilmiah yang ia anut, yakni Darwinisme, atau teori evolusi melalui seleksi alam yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Dalam teori ini, evolusi berlangsung melalui variasi, pewarisan sifat, dan seleksi alam.

Darwin menunjukkan bahwa makhluk hidup bertahan bukan karena paling kuat, melainkan karena paling mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi ini tidak selalu dramatis, tetapi berlangsung konsisten dan berkelanjutan hingga melahirkan kompleksitas kehidupan modern.

Ilma memandang proses tersebut sebagai bentuk inovasi alami. Alam memberikan pelajaran bahwa stagnasi adalah awal kemunduran, sementara pembaruan adalah syarat keberlangsungan. Prinsip ini, menurutnya, sepenuhnya relevan untuk membaca dinamika bangsa dan peradaban.

“Bangsa Indonesia merupakan bagian dari ekosistem global. Dalam seleksi alam modern, yang diuji bukan otot, tetapi kemampuan belajar, beradaptasi, dan berinovasi,” ujarnya.

Menuju 2045: Bonus Demografi sebagai Berkah atau Kutukan

Memasuki sekitar 19 tahun menuju satu abad kemerdekaan Republik Indonesia pada 2045, Ilma menilai bangsa ini berada pada persimpangan sejarah. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia dapat menjadi berkah besar, tetapi juga berpotensi menjadi kutukan jika tidak dikelola dengan inovasi.

Menurutnya, jumlah penduduk usia produktif yang besar tidak otomatis menjadi kekuatan. Tanpa keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman, bonus demografi justru dapat memicu tekanan sosial dan ekonomi.

Dalam konteks inilah GIN2 menjadi penting sebagai spirit kolektif agar bangsa tidak terlambat beradaptasi. Inovasi diposisikan sebagai jembatan antara potensi demografis dan kemajuan nyata.

“2045 bukan sekadar target waktu. Ia adalah ujian apakah kita mampu mengubah potensi menjadi kekuatan,” tegas Ilma.

Dunia yang Bergejolak dan Tuntutan Mental Adaptif Bangsa

Ilma menyoroti dinamika global yang semakin bergejolak sebagai cermin keras realitas dunia saat ini. Perubahan geopolitik, perkembangan teknologi, serta ketegangan ekonomi global menunjukkan bahwa stabilitas bukan lagi kondisi permanen.

Ia mencontohkan bagaimana peristiwa internasional, seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat serta meningkatnya gelombang protes anti-rezim terhadap kepemimpinan Ali Khamenei di Iran, menggambarkan rapuhnya tatanan ketika adaptasi gagal dilakukan.

Menurut Ilma, pelajaran utamanya bukan pada siapa yang benar atau salah, melainkan pada kecepatan dunia berubah. Bangsa yang tidak memiliki mental adaptif akan mudah terguncang oleh perubahan eksternal.

“Disrupsi tidak bisa dicegah. Yang menentukan adalah kesiapan mental dan kapasitas adaptasi kita,” ujarnya.

Inovasi sebagai Akumulasi Adaptasi Sehari-hari

Ilma menegaskan bahwa inovasi tidak selalu berbentuk terobosan besar atau teknologi canggih. Inovasi justru sering lahir dari akumulasi adaptasi kecil yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar keterampilan baru, memperbarui cara kerja, dan berani mengevaluasi kebiasaan lama merupakan bentuk inovasi yang kerap diremehkan, padahal sangat menentukan daya saing jangka panjang.

Budaya inovasi, menurutnya, tumbuh ketika masyarakat terbiasa berpikir kritis dan reflektif terhadap perubahan, bukan sekadar menolaknya.

Dalam semangat GIN2, setiap individu diposisikan sebagai subjek inovasi. Kemajuan bangsa adalah hasil adaptasi kolektif, bukan kerja segelintir pihak.

Ilma mencontohkan bagaimana perubahan teknologi dalam satu dekade terakhir telah melahirkan keterampilan baru yang sebelumnya belum dikenal secara luas, mulai dari analis data, pengembang kecerdasan buatan, hingga profesi kreatif berbasis digital. Perubahan ini, menurutnya, menuntut SDM Indonesia untuk terus belajar dan beradaptasi, karena keterampilan yang relevan hari ini dapat menjadi usang dalam waktu singkat jika tidak diperbarui secara berkelanjutan.

Kecerdasan Buatan sebagai Rekan Strategis Peradaban

Ilma juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sering dipersepsikan sebagai ancaman. Ia menilai ketakutan bahwa AI akan menggantikan manusia atau mematikan lapangan kerja sering kali berlebihan.

Menurutnya, ancaman terbesar bukan AI itu sendiri, melainkan kehilangan momentum untuk belajar dan beradaptasi. AI seharusnya diposisikan sebagai rekan strategis yang mempercepat pembelajaran dan meningkatkan kapasitas manusia.

“AI harus membuat kita terpacu untuk naik kelas, bukan takut lalu berhenti bergerak,” ujar Ilma. Ia menekankan bahwa bangsa yang defensif terhadap teknologi akan tertinggal.

Dalam kerangka GIN2, AI dipandang sebagai alat akselerasi peradaban yang harus dimanfaatkan secara cerdas dan bertanggung jawab.

Peran Negara, Pasar, dan Kepentingan Nasional

Ilma menegaskan bahwa dalam mendorong inovasi, negara memiliki peran penting menjaga kepentingan nasional dan kedaulatan, sementara pasar diberi ruang untuk bergerak secara kreatif.

Sebagai penganut pandangan nasionalis–libertarian, Ilma menilai bahwa mekanisme pasar dan kreativitas masyarakat perlu diberi ruang untuk berkembang secara optimal, dengan negara memastikan bahwa dinamika tersebut tetap berjalan searah dengan kepentingan nasional dan kerangka NKRI.

“Kebebasan tanpa arah melemahkan bangsa, sementara arah tanpa kebebasan mematikan inovasi; kemajuan lahir dari keseimbangan keduanya.”

“Inovasi boleh bergerak dinamis dan progresif, selama arah besarnya tetap menjaga kepentingan bangsa dan keberlanjutan negara,” ujarnya.

Keseimbangan inilah yang menurut Ilma menjadi kunci agar inovasi tidak kehilangan orientasi nasional.

IA-ITB dan Tanggung Jawab Intelektual Alumni

Di bagian akhir, Ilma menegaskan peran strategis IA-ITB sebagai komunitas intelektual dalam pembangunan bangsa. Alumni ITB memiliki modal keilmuan dan akses lintas sektor yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan nasional.

IA-ITB, menurutnya, bukan sekadar wadah silaturahmi, melainkan sarana pengabdian intelektual. Jika peran ini tidak diambil, yang hilang bukan sekadar reputasi, melainkan kesempatan berkontribusi nyata bagi bangsa.

Melalui semangat juang GIN2, IA-ITB diharapkan menjadi bagian dari ekosistem inovasi nasional yang bertahap namun konsisten.

“Inovasi adalah kunci kemajuan bangsa, dan semangat juang adalah awal dari semua itu. Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat dunia berubah, tetapi oleh seberapa siap bangsa ini menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.” pungkas Ilma.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.