Home BANK INDONESIA Jalan Keselamatan Ekonomi Bangsa Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Jalan Keselamatan Ekonomi Bangsa Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

3
0
ilustrasi AI

Jalan Keselamatan Ekonomi Bangsa Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi krisis, melainkan bangsa yang mampu belajar, beradaptasi, dan memperkuat fondasinya setiap kali diterpa tantangan. Di tengah dinamika global—kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, rivalitas dagang antara kekuatan besar, ketegangan geopolitik, serta perlambatan ekonomi dunia—Indonesia menghadapi ujian serius. Kekhawatiran tentang intervensi asing, tekanan terhadap neraca pembayaran (BOP), dan stabilitas rupiah bukanlah isapan jempol. Namun sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki daya tahan yang kuat ketika fondasi ekonomi dijaga dengan disiplin dan visi jangka panjang.
Untuk memastikan bangsa ini selamat dan ekonomi tetap aman, diperlukan pendekatan komprehensif yang menyentuh stabilitas makro, transformasi struktural, kemandirian pangan dan energi, penguatan industri, pembangunan sumber daya manusia, serta tata kelola yang bersih dan efektif. Keselamatan ekonomi bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif negara, pelaku usaha, dan masyarakat.
Menjaga Stabilitas Makroekonomi sebagai Fondasi Utama
Stabilitas makro adalah benteng pertama. Inflasi yang terkendali, defisit fiskal yang sehat, rasio utang yang terukur, serta cadangan devisa yang cukup menjadi penyangga utama menghadapi guncangan eksternal. Peran Bank Indonesia sangat vital dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengelola likuiditas. Kebijakan moneter yang kredibel akan menjaga kepercayaan investor dan mencegah gejolak berlebihan di pasar keuangan.
Selain itu, koordinasi erat antara otoritas fiskal dan moneter mutlak diperlukan. Anggaran negara harus diarahkan pada belanja produktif—bukan sekadar konsumtif—yang menciptakan efek berganda pada pertumbuhan. Disiplin fiskal bukan berarti menahan belanja pembangunan, melainkan memastikan setiap rupiah bekerja menghasilkan nilai tambah.
Indonesia pernah belajar dari krisis 1998 bahwa defisit transaksi berjalan yang besar, utang jangka pendek berlebihan, dan lemahnya pengawasan sektor keuangan bisa memicu kehancuran sistemik. Pengalaman itu harus menjadi pengingat agar pengelolaan neraca pembayaran dilakukan dengan hati-hati. Diversifikasi sumber devisa, penguatan ekspor bernilai tambah, dan pengurangan ketergantungan impor strategis adalah langkah kunci.
Transformasi Ekonomi: Dari Komoditas ke Nilai Tambah
Ketergantungan pada ekspor bahan mentah membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketika harga batu bara atau sawit tinggi, ekonomi tumbuh; ketika turun, penerimaan negara ikut tergerus. Oleh karena itu, hilirisasi industri menjadi strategi penting.
Langkah pengolahan nikel di dalam negeri, pembangunan smelter, serta pengembangan industri baterai kendaraan listrik harus dilanjutkan dengan konsisten. Dengan memproses bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau jadi, Indonesia memperoleh nilai tambah lebih besar, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing industri.
Namun hilirisasi tidak boleh berhenti pada ekstraksi sumber daya alam. Indonesia juga harus mendorong industrialisasi berbasis teknologi, manufaktur berorientasi ekspor, serta ekonomi digital. Transformasi ini memerlukan kepastian hukum, insentif investasi yang tepat sasaran, dan infrastruktur yang memadai.
Kemandirian Pangan dan Energi sebagai Pilar Ketahanan
Ketahanan ekonomi tidak mungkin terwujud tanpa kemandirian pangan dan energi. Ketergantungan impor gandum, kedelai, atau bahan bakar membuat ekonomi rentan terhadap gangguan global. Ketika harga minyak dunia melonjak atau rantai pasok terganggu akibat konflik seperti perang RusiaUkraina, tekanan inflasi langsung terasa.
Investasi pada pertanian modern, irigasi, riset benih unggul, serta digitalisasi distribusi pangan perlu diperkuat. Di sektor energi, diversifikasi menuju energi terbarukan—panas bumi, surya, angin, dan bioenergi—harus dipercepat untuk mengurangi ketergantungan impor BBM. Transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi strategi ekonomi jangka panjang.
Memperkuat UMKM dan Kelas Menengah
UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Mereka menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi sumber ketahanan ketika krisis melanda. Digitalisasi UMKM, akses pembiayaan murah, serta pelatihan manajemen modern akan meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Kelas menengah yang kuat menciptakan permintaan domestik yang stabil. Konsumsi rumah tangga selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan yang menjaga daya beli—pengendalian inflasi, penciptaan lapangan kerja, dan perlindungan sosial tepat sasaran—harus menjadi prioritas.
Diplomasi Ekonomi yang Seimbang dan Mandiri
Di tengah rivalitas global antara Amerika Serikat dan China, Indonesia perlu menjaga prinsip bebas aktif. Ketergantungan pada satu blok kekuatan akan meningkatkan risiko tekanan ekonomi atau politik. Diversifikasi mitra dagang dan investasi akan memperkuat posisi tawar.
Indonesia memiliki posisi strategis di Asia Tenggara dan peran penting dalam organisasi regional. Memanfaatkan kerja sama multilateral untuk memperluas akses pasar dan menarik investasi berkualitas akan meningkatkan daya tahan ekonomi nasional. Diplomasi ekonomi harus diarahkan pada kepentingan nasional, bukan sekadar mengikuti arus geopolitik.
Reformasi Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi
Tak ada ekonomi yang kuat tanpa tata kelola yang bersih. Korupsi meningkatkan biaya usaha, menurunkan kepercayaan investor, dan menggerogoti sumber daya negara. Reformasi birokrasi harus terus dilakukan untuk menciptakan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan akuntabel.
Kepastian hukum menjadi faktor penentu dalam menarik investasi jangka panjang. Investor tidak hanya melihat potensi pasar, tetapi juga stabilitas regulasi. Konsistensi kebijakan sangat penting agar pelaku usaha dapat merencanakan investasi tanpa ketidakpastian berlebihan.
7. Investasi pada Pendidikan dan Sumber Daya Manusia
Ekonomi masa depan ditentukan oleh kualitas manusia. Tanpa tenaga kerja terampil dan inovatif, transformasi industri tidak akan berjalan. Investasi pada pendidikan vokasi, riset, dan pengembangan teknologi harus ditingkatkan.
Kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah dapat mempercepat inovasi. Pembangunan sumber daya manusia bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk generasi adaptif yang mampu bersaing di era otomatisasi dan kecerdasan buatan.
Penguatan Sistem Keuangan Nasional
Stabilitas perbankan dan pasar keuangan sangat krusial. Pengawasan yang ketat, manajemen risiko yang baik, serta transparansi laporan keuangan akan mencegah krisis sistemik. Pengembangan pasar obligasi domestik dan pendalaman pasar keuangan akan mengurangi ketergantungan pada pembiayaan luar negeri jangka pendek.
Digitalisasi sistem pembayaran juga memperluas inklusi keuangan. Semakin banyak masyarakat terhubung dengan sistem keuangan formal, semakin kuat fondasi ekonomi nasional.
Membangun Mental Bangsa yang Produktif
Selain kebijakan struktural, keselamatan ekonomi juga bergantung pada karakter bangsa. Budaya kerja keras, disiplin, inovasi, dan kolaborasi harus ditanamkan sejak dini. Polarisasi sosial dan politik hanya akan melemahkan fokus pembangunan.
Optimisme rasional perlu dikedepankan. Kritik konstruktif penting, namun pesimisme berlebihan dapat merusak kepercayaan pasar. Stabilitas psikologis masyarakat berkontribusi pada stabilitas ekonomi.
Jalan Menuju Ketahanan dan Kedaulatan Ekonomi
Keselamatan ekonomi bangsa tidak ditentukan oleh satu kebijakan tunggal, melainkan oleh konsistensi langkah kolektif dalam jangka panjang. Indonesia memiliki modal besar: populasi produktif, sumber daya alam melimpah, pasar domestik luas, dan posisi strategis secara geografis. Tantangannya adalah bagaimana mengelola semua potensi itu secara efektif, adil, dan berkelanjutan.
Intervensi atau tekanan global mungkin terjadi, tetapi negara dengan fondasi kuat tidak mudah digoyahkan. Dengan stabilitas makro yang terjaga, transformasi industri yang berkelanjutan, kemandirian pangan dan energi, tata kelola bersih, serta sumber daya manusia unggul, Indonesia dapat berdiri tegak di tengah badai global.
Bangsa ini tidak membutuhkan ketakutan, melainkan kewaspadaan dan kerja nyata. Jika seluruh elemen masyarakat bersatu dalam visi pembangunan jangka panjang, maka ekonomi akan tetap aman, dan Indonesia bukan hanya selamat—tetapi bangkit menjadi kekuatan ekonomi yang berdaulat dan dihormati dunia.

(aendra medita, analis di Pusat Kajian komunakasi Politik Indonesia (PKKPI), sub bidang sosial -ekonomi- budaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.