INDONESIA MEMANG DALAM POSISI PALING ZONK UNTUK MENANDA TANGANI DEAL PALING ZONK
Oleh : William Win Yang – Business Strategist – Best Selling Book Author
Sebelum menjawab judul diatas, ijinkan saya menganalisa, seberapa zonk deal yang baru kita tanda tangani. Saya tidak akan menanggapi 132 kewajiban kita semua, tapi beberapa saja yang membuat saya merasa… merasakan yang mungkin dirasakan banyak orang…
1. Membeli US$.33 milyard yang terdiri dari : Beli pesawat komersial dan peralatan terkait senilai $13,5 milyard, energy senilai US$.15 milyard, dan produk pertanian senilai $.4,5 milyard
2. Transfer data komersial untuk diolah oleh Amerika
3. TKDN dihapuskan bagi produk-produk Amerika
4. Sertifikasi halal tidak diwajibkan bagi produk-produk USA
5. Tarif import nol persen
6. Melarang melakukan diskriminasi pajak atau hukum terhadap perusahaan digital dari USA
7. Kewajiban ikut memboikot negara yang diboikot Amerika
8. Wajib konsultasi pada Amerika, saat ingin membeli produk telekomunikasi seperti 5G dan 6G.
9. Dan yah, melonggarkan segala macam aturan bagi perusahaan tambang Amerika, termasuk diantaranyaperpanjangan ijin PT Freeport Indonesia yang semula habis pada 2041 menjadi 2061
Dengan balasan tarif export kita ke Amerika turun ke 19% dan 1000 lebih komoditi kita bebas tarif masuk ke Amerika. Yang ironisnya, tepat sehari setelah pendana tanganan dan puji-pujian itu, tarif turun ke 10% merata di dunia. Yang artinya tanpa perlu melakukan apapun, kita bisa mendapat 10%. Walaupun setelahnya naik ke 15, tetap saja masih lebih murah.
Jadi, apa konsekuensi dari perjanjian ini? Untuk memahami apa yang terjadi, pertama kita harus memahami apa itu perdagangan? anda tahu apa itu dagang? Alias trade? Dagang atau trade adalah pertukaran. Yang artinya pertukaran barang atau barter : singkatnya kamu memiliki barang yang saya inginkan, saya memiliki barang yang kamu inginkan, mari kita tukaran. Namun karena tukar menukar ini merepotkan, maka di tengah-tengah munculah currency (uang).
Berdasarkan konsep itu, apa yang dimiliki USA? Mereka hampir tidak memiliki apa-apa yang bisa diperdagangkan kecuali fasilitas digital seperti Google & Facebook, dan tentu saja energy yang banyak alternatifnya di dunia ini. They have nothing but money. Mata uang terkuat yang menjadi mata uang dunia.
Dan saya menentang keras pernyataan yang mengatakan bahwa kesepakatan kita selama ini tidak adil dan mencurangi Amerika. Kita bukan penipu, kita pebisnis jujur, dan perusahaan-perusahaan Amerika membukukan keuntungan besar dengan berbisnis dengan kita. Jadi singkirkan prinsip yang mengatakan kita merugikan mereka dengan membukukan surplus perdagangan.
OK, sekarang saatnya membahas satu persatu poinkesepakatan itu.
Kewajiban membeli produk USA senilai 33 milyard
Saya tidak akan menyoroti kewajiban beli boeing, walaupun itu sebenarnya adalah deal yang dibatalkan karena standard keamanan boeing yang meragukan di masa lalu, atau kesepakatan energy yang memang kita butuhkan (selama harganya tidak kemahalan). Tapi lebih pada kewajiban membeli produk pertanian, yang kemungkinan besar gandum menempati porsi besar disana. Pertama, tentu saja ini merugikan para petani kita, dan membuat pernyataan swasembada pangan kita menjadi omong kosong. Lalu ada gandum…
Perlu diketahui :
1. Gandum bukan makanan pokok kita
2. Kita tidak kekurangan gandum
3. Dan yang lebih unik adalah : kebanyakan gandum yang kita import ke negara ini dimiliki secara langsung atau tidak langsung, atau oleh keluarga yang terafiliasi dengan importir itu sendiri. Misalnya Indofood. Dan ini hal yang wajar karena perusahaan dengan kebutuhan gandum besar seperti Indofood dkk, menginginkan harga gandum yang stabil, dan ingin menghindari resiko naik turunnya harga gandum dunia yang menyebabkan produksinya merugi.
4. Pertanian Gandum yang kita miliki ini tersebar di seluruh dunia, dari (yes Amerika), Amerika Selatan, Kanada, Eropa, sampai Afrika. Tujuannya jelas : diversifikasi, untuk mencegah resiko geo politik global. (Contohnya : import dari Ukraina terganggu akibat perang dengan Russia)
Maka, jika kita import gandum untuk memenuhi kuota paman donal…. Siapa yang import? BULOG? Kalau BULOG yang ambil, mau diapakan? Pertama mereka tidak punya pabrik tepung, kedua mereka tidak menguasai teknik untuk memasarkan tepung segitu banyak. Salah-salah malah jadi makanan tikus. Dan yang penting, apa kualitas dan harganya bisa bagus? Kalaupun masalah itu teratasi, tepung itu mau diapakan? Dibagikan ke rakyat dengan gratis sebagai sembako? Mayoritas rakyat kita tidak ngerti mengelola terigu, lebih biasa mengelola beras.
Jadi mau diapakan terigu itu? ya suruh industri yang serap. Suruh perusahaan seperti Indofood dkk untuk membelinya atau sekalian aja suruh mereka yang melakukan import.
Permasalahannya, jika itu dilakukan, kita akan kelebihan supply. Akan ada sejumlah besar gandum yang jadi mubazir. Dan untuk supaya tidak mubazir, yang masuk akal adalah para importir menghentikan import dari supplier lama mereka dan mengalihkan semuanya ke USA, yang artinya :
1. Kebun mereka yang sudah establish itu harus cari pembeli baru, yang jika gagal, maka akan bangkrut (hore orang kaya rugi, kita gembira melihat orang susah)
2. Saat kebun itu bangkrut akan menyebabkan banyak pengangguran di negara itu (biar saja di negara itu, asal bukan kita – artinya kita tidak pantas minta belas kasihan kalau nanti ada yang gembira saat PHK massive di negara kita)
3. Saat kebun bangkrut, negara asal akan protes pada perusahaan Indonesia dan mungkin akan melakukan nasionalisasi dan memboikot kita dari negaranya. Mereka juga mungkin akan menuntut tarif resiprokal terhadap negara kita. dan sekalipun mereka tidak bisa melakukan semua itu, mereka bisa melakukan satu hal : Dendam… dan dendam ini akan disimpan untuk menunggu waktu pembalasan yang tepat. (percayalah kadang kesempatan itu datang)
4. Namun efek yang utama dari deal ini adalah……. USA yang tadinya tidak memiliki barang yang memiliki daya tawar tinggi untuk dijual ke kita, sekarang mereka memiliki “Gandum” yay. Yang artinya, jika suatu hari mereka mau menekan kita, mereka bisa mengerem export gandum mereka ke kita. sebagaimana mereka mengerem export NVDIA ke China.
5. Saat itu terjadi, dan kita berbalik ke negara-negara yang dulu kita tinggalkan, ada kemungkinan besar mereka memandangnya sebagai kesempatan baik untuk membalas dendam. Baik dengan mengenakan harga tinggi atau memboikot sepenuhnya
Transfer data komersial untuk dikelola oleh Amerika
“Tenang, data kita aman, yang ditransfer adalah data terkait komersial saja” gitu kata pemerintah untuk mengeles atas kecaman ini.
1. Permasalahannya, data-data lain kita itu kalau tidak zonk, sebagian besar sudah bocor
2. Kita juga menggunakan WA, Google, FB, dan lain-lain yang sangat mungkin prilaku kita dipantau oleh CIA
3. Hanya 1 yang masih gelap bagi mereka : data komersial yang ada di GPN & QRIS yang nantinya akan diupgrade ke Payment ID, yang mana semua transaksi digital seluruh rakyat Indonesia akan terdata disana. Darimana kamu terima uang, dan kemana saja kamu belanja akan tercatat semua disana.
Teknologi ini, tanpa jatuh ke tangan Amerikapun sudah sangat bahaya, karena dapat digunakan oleh oknum-oknum penyamun yang punya akses pada kekuasaan untuk :
1. Melakukan pemerasan oleh oknum yang punya akses ke data, jika menemukan si tokoh melakukan aktivitas selingkuh atau sejenisnya
2. Menjegal rejeki musuh : misalnya si A kompetitor saya biasa beli supply dari si X. saya akan datangi si X, kemudian tawar untuk beli semua supply, atau tawari dia pinjaman lunak, dengan syarat tidak boleh supply ke A. jadi saya bisa mengatur supaya si A bangkrut
3. Mengetahui siapa saja yang punya uang cukup banyak, kemudian datangi mereka, suruh sumbang program aneh dari negara, yang kalau ditolak akan mulai dicari-cari kesalahannya untuk dikiriminalisasi. Yang mana, sesudah dikriminalisasi, tinggal diperas lebih banyak.
4. Menganalisa lawan politik dapat penghasilan dari mana saja, kemudian datangi sumber penghasilannya itu dan diancam. Baik dengan kriminalisasi atau mematikan bisnisnya
5. Menganalisa aliran dana para pendemo, kemudian mengancam sumber pendapatan mereka, agar bos tempat para pendemo bekerja, mengancam si pendemo untuk berhenti berdemo atau dipecat
6. Menganalisa perusahaan mana saja yang menguntungkan untuk kemudian dirampas paksa (seperti tambang atau kebun sawit). Misalnya bekerja sama dengan oknum departemen kehakiman untuk mengubah nama di kepemilikan PT yang terdaftarnya, yang mana jika dia melawan, tinggal dikriminalisasi. Dan uang hasil rampasan ini sebagian bisa dimasukan ke kas negara untuk pembangunan atau bayar hutang, atau memelihara centeng politik
7. Memerintahkan ormas yang kita kendalikan untuk memeras pebisnis-pebisnis lebih banyak lagi, karena kita tahu pendapatan mereka yang sebenarnya. Jadi tidak bisa lagi mereka pura-pura miskin. Dan oknum itupun bisa dengan bangga mengatakan : “Cuma segitu saja tidak akan membuat kamu miskin”
8. Menyuruh ormas yang kita kendalikan untuk menduduki aset-aset lawan, kemudian membuat dia pusing, dan kita bisa bargaining untuk kasus kita
9. Memiskinkan orang-orang yang berani mendanai demonstrasi
10. Melacak oposisi-oposisi miskin, namun memiliki suara dan pengaruh lantang untuk kemudian disuap.
11. Dan tentunya banyak ide kreatif lainnya
Lalu bagaimana data ini beresiko di salahgunakan oleh negara super power yang memang memiliki sejarah menggunting dalam lipatan ini ? Silahkan pikirkan sendiri. Yang jelas, kalau saya jadi mereka, saya akan menggunakannya untuk memaksa pejabat-pejabat Indonesia menjadi kacung mereka.
Ya ya yaaa, katanya data yang ditransfer tetap harus memenuhi UU yang berlaku di Indonesia. Tapi UU kan bisa diubah, dan kalaupun tidak diubah, apa praktek diatas bisa dicegah dengan UU kita? kalaupun ya, apa ada teknologi untuk mengawasinya? Kalaupun kita tahu data kita disalah gunakan, memangnya kita bisa apa? Menghukum Amerika?
Wajib konsultasi pada Amerika, saat ingin membeli produk telekomunikasi seperti 5G dan 6G.
Konsultasi dalam geo politik itu bukan masalah : “Bro, gua mau beli ini bro, bagus ga bro?”
Tapi memberi kemampuan pada Amerika untuk melarang kita membeli teknologi itu dari China atau Russia, walau harganya jauh lebih murah. Dan mengarahkan untuk membeli dari CSCO atau Motorolla yang kemungkinan besar jauh lebih mahal, dan kemungkinan besar dipasangi chip mata-mata yang dapat diakses CIA atau NSA setiap saat.
TKDN dihapuskan bagi produk USA
“Ah tenang aja, barang amerika kan mahal-mahal, ga mungkin lah bersaing walau tanpa TKDN” gitu kata sebagian orang.
Hanya saya, TKDN ini bukan entry barier biasa. Tujuannya bukan untuk menghambat produk, tapi lebih pada menciptakan lapangan kerja di Indonesia dan alih teknologi dari negara maju ke kita. Dengan ketiadaan ini, harapan kita untuk mempelajari teknologi baru akan makin pupus, dan lapangan kerja yang harusnya diciptakan oleh TKDN itu lenyap.
Dan bukan hanya itu : ada negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea yang dengan patuh memenuhi syarat itu dan membangun pabrik disini. Perlakuan istimewa terhadap USA ini tentunya akan membuat mereka sakit hati dan mempertimbangkan untuk hengkang dari Indonesia dan menuntut perlakuan yang sama. Jika itu terjadi….
Poin-poin lainnya rasanya tidak perlu saya jabarkan, karena rasanya pembaca cukup cerdas untuk menterjemahkan artinyayang menunjukan kita sudah tidak punya kedaulatan lagi.
-ii-
So, kembali ke pertanyaan semula : Kok kita mau menanda tangani perjanjian yang sedemikian zonk dan menghina ini? Padahal kita diamkan saja sama seperti tahun lalu, kita akan dapat deal jauh lebih bagus.
Jawabannya, mungkin ada pada 2 hal ini :
1. MBG
2. MSCI
Bukankah MENKEU kita mengatakan bahwa : “Jangan kritik MBG, karena MBG adalah inti dari kebijakan ekonomi kita”yang artinya dia mengharapkan agar MBG ini memperkerjakan banyak orang, orang dapat gaji, orang mulai belanja, belanja mentriger lahirnya bisnis-bisnis baru, dan ekonomi mulai berputar. Yang mana seperti kita semua tahu, permasalahan terbesarnya adalah : UANGNYA DARI MANA?
Pajak? Penghematan? Sumbangan? Hasil rampasan KPK?Patriot Bonds? Tidak… itu semua tidak cukup… untuk menutupi program MBG. Apalagi jika MBG ditambah Koperasi merah putih yang jumlahnya bagai bintang-bintang di langit itu. Apalagi kalau ditambah katanya staf MBG mau jadi pegawai tetap. Apalagi kalau Indomaret dan Alfa ditutup, yang artinya hilang pajak dari sana. Apalagi kalau ditambah cicilan hutang yang bunganya mencapai 400 T per tahun, dan terus bertambah (karena kemarin katanya kita baru ambil 127 T lagi hutang baru).
Semua pengeluaran itu hanya dapat ditutup dengan cetak uang! Dan kebetulan beberapa waktu ini secara kebetulan sekali terbentuk kondisi yang sangat ideal untuk itu :
1. Kekosongan kekuasaan di OJK
2. Ponakan Presiden sebagai Deputy Gubernur Bank Indonesia
3. Ditambah lagi Danantara
Memungkinkan kita untuk mencetak uang, kemudian disalurkan ke Danantara, entah melalui Patriot Bonds atau apalah itu, kemudian dari sana disalurkan ke MBG dan kawan-kawannya. Singkat cerita jika benar ini yang terjadi, maka mereka mempertaruhkan masa depan Indonesia melalui MBG. Yang mana, skenario terbaiknya adalah sebagai berikut :
1. MBG berjalan dan menghasilkan banyak lapangan kerja
2. Para pekerja merasa kaya dan mulai belanja
3. Dari sana akan mentrigger lahirnya bisnis-bisnis lain dan ekonomi akan ke atas
Tidakah kita merasa ini terlalu gambling? Karena bersamaan dengan bisnis itu berjalan, nilai mata uang kita akan semakin ga ada nilainya. Seperti kuda api. Lari kencang tapi terbakar.
Kembali ke pertanyaan semula : kenapa kita mau menanda tangani perjanjian yang tampak sedemikian zonk? Karena mungkin kondisi kita sudah terlalu zonk untuk menolaknya. Karena siasat ekonomi MBG centric itu hanya bisa berjalan kalau mata uang kita kuat. Yang menarik, sesaat sebelum perjanjian tarif itu di tanda tangani, Morgan Stanley mengancam untuk menurunkan peringkat investasi Indonesia, yang mana, jika dilakukan, maka mata uang kita akan hancur dan kita beresiko mengalami hyper inflasi saat memulai proyek MBG itu.
Jika prilaku Morgan Stanley yang kemarin itu ternyata memang bukan kebetulan, maka saat negosiasi tarif kemarin yang terjadi kira-kira begini :
“Bro, gue tau lu mau cetak uang kan. Lu butuh mata uang yang kuat supaya proyeklu jalan. Gue bisa aja ancurin mata uang you dengan nurunin peringkat investasi you, sekaligus gua short selling rupiah. Mata uang lu akan jadi ga bernilai, you akan ngalamin hyper inflasi, dan negara you akan chaos…. Tapi tenang aja, kalau you ga mau kita lakukan itu, you setujui semua syarat kita ini…”
Dan terjadilah demikian.
Sekarang kembali lagi ke skenario awal MBG sentris ini : apakah akan berhasil? Mungkin, tapi kalau skenario MBG inigagal dan menyebabkan hyper inflasi tahun depan, maka hanya kepada mamarikalah kita dapat memohon…