Home Kolom Apa Arti Serangan Kilat Iran ke Israel

Apa Arti Serangan Kilat Iran ke Israel

49
0

Oleh: Pizaro Gozali Idrus

Iran melancarkan serangan militer langsung terhadap Israel pada Sabtu (13/4) waktu setempat dengan meluncurkan lebih dari 200 drone, rudal jelajah, dan rudal balistik ke Israel.

Ini adalah serangan pertama Iran dalam sejarah terhadap Israel. Situasi ini terjadi setelah Israel menghancurkan konsulat Teheran di Suriah pada 1 April lalu yang menewaskan 12 orang, termasuk dua jenderal elit Iran.

Tidak jelas apakah pertempuran ini berlanjut. Yang jelas Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Walikota Jenderal Mohammad Baqeri, mengatakan Teheran telah menyelesaikan serangan balasannya terhadap Israel.

“Menurut pandangan kami, operasi sudah selesai, tetapi angkatan bersenjata siap dan kami akan bertindak jika perlu,” kata Baqeri.

Tel Aviv pada Ahad (14/3) pukul 03.30 pagi juga sudah mencabut imbauan kepada warga agar bersembunyi di tempat-tempat aman selama serangan. Artinya, Israel menyimpulkan serangan telah berakhir.

Kita tidak melihat tidak ada ekskalasi yang besar atau korban di pihak militer penjajah Israel yang signifikan sebagaimana serangan Hamas dan perlawanan bersenjata dari jalur Gaza.

Lalu: apa yang bisa kita baca dari serangan singkat ini?

Pertama, alih-alih sebuah deklarasi perang terbuka kepada Israel, serangan Iran ini lebih merupakan skala terbatas sebagai balasan kepada Israel. Durasi serangan hanya berlangsung 5 jam. Bukanlah perlawanan yang intens seperti yang dilakukan Hamas kepada Israel yang sudah hampir memasuki bulan ketujuh sejak Oktober dan banyak merugikan tentara dan fasilitas militer Israel sejak hari pertama pertempuran.

Dalam konteks serangan Iran, Israel hanya butuh waktu 7 jam untuk kembali penerbangan membukanya kembali kenyamanan. Tentu saja kita tidak sedang menggagalkan pertempuran ini sebagai sebuah sinetron. Tapi ini jauh dari ekspektasi narasi Iran selama ini yang ingin melenyapkan Israel.

 

Kedua, beberapa hari sebelum serangan terjadi, Iran sudah membuka komunikasi kepada Inggris, Australia, dan Jerman. Informasi ini diketahui oleh Washington. Bahwa Iran hanya akan menanggapi tindakan Israel secara terbatas dan tidak akan mengarah pada eklasasi di wilayah tersebut.

Bahkan pejabat AS lainnya mengatakan Washington berkomunikasi langsung dengan Iran melalui perantara Swiss dan Iran tidak menyampaikan ancaman melalui saluran ini.

Hal ini yang menyebabkan serangan dari Iran relatif sudah diketahui sejak awal. Tel Aviv mengatakan pada Sabtu serangan akan berlangsung dalam 48 jam kedepan. Waktu yang sangat cukup bagi Tel Aviv dan Washington untuk mengantisipasinya.

Tidak mengherankan, pasukan AS mencegat lebih dari 70 drone serang satu arah dan setidaknya tiga rudal balistik selama serangan Iran terhadap Israel. Rudal balistik tersebut dicegat oleh kapal perang di Laut Mediterania bagian timur menurut sumber pejabat AS yang dilansir CNN.

Rudal balistik tersebut dicegat oleh kapal perang di Laut Mediterania bagian timur.

Ketiga, serangan Iran sangat berbeda dengan Hamas. Apa yang dilakukan Hamas bersama faksi perlawanan di Gaza sangat siap. Mereka menyiapkannya sudah 5 tahun. Sangat rahasia dan terjaga. Tanpa ada bocoran informasi ke Washington, apalagi Israel. Hal ini yang membuat badai Taufan Al-Aqsha pada 7 Oktober lalu sangat efektif memberdayakan kekuatan Israel.

The Economist mengatakan Hamas melancarkan operasi militer seperti yang tercantum dalam buku teks perang. Mereka memulai serangan secara hati-hati terhadap sensor dan komunikasi militer Israel.

Banyak kamera pengintai Israel yang membidik sasaran menjadi penembak jitu dan berhasil dinonaktifkan oleh Hamas. Perang perang elektronik juga terlibat dalam operasi Hamas. Serangan komando terhadap markas besar komando Israel di Gaza selatan mengganggu komunikasinya dan mencegah para mengirimkan sinyal peringatan.

Selanjutnya, puluhan kendaraan dan ratusan personel militer Hamas bergerak menerobos pagar perbatasan yang dibangun penjajah. Serangan tersebut juga memanfaatkan apa yang disebut militer sebagai senjata gabungan: roket salvo besar-besaran saat fajar, pergerakan militer di darat, pesawat tempur yang menggunakan pesawat layang bertenaga, dan serangan melalui jalur laut.

Situasi ini sangat berbeda dengan serangan yang dilakukan Iran

() ?

Pertanyaannya kemudian: kenapa serangan yang dilakukan Iran masih dalam taraf terbatas? Penulis menilainya pada empat hal.

Dalam membaca politik luar negeri Iran ada satu prinsip yang kita pegang: bahwa mereka akan lebih saya,prioritaskan prinsip memperluas pengaruh ideologinya (Syiah) daripada harus berbenturan dengan Israel secara terbuka. Jikapun, Iran mau menyerang lebih ke serangan terbatas.

Trita Parsi dalam disertasinya The Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and The US mengatakan Iran memiliki dua kebijakan luar negeri dalam Palestina. Retorika kebijakan pertama. Di mana Iran akan terus mengecam sekeras mungkin setiap tindakan Israel. Tetapi dalam kebijakan operasional, Iran akan tetap menjaga hubungan pragmatismenya dengan Israel.

Iran, kata Parsi, juga lebih mempertimbangkan faktor strategi daripada ideologi. Untuk hal itu, Teheran akan sangat hati-hati untuk merealisasikan perlawanan kepada Tel Aviv. Serangan terbatas mungkin jalan tengah yang diambil Teheran.

Kedua, Iran bukanlah negara yang stabil secara ekonomi. Inflasi masih tinggi di Iran sekitar 35%. Mereka pasti akan mempertimbangkan faktor domestik dalam konteks melawan perang Israel. Aplagi Iran sudah diingatkan akan adanya dampak serangan balik yang sangat besar terhadap Teheran. Narasi-narasi perlawanan Iran terhadap Israel juga sering dimanfaatkan Teheran untuk meredam desakan domestik.

Ketiga, Iran akan lebih mengandalkan serangan dengan menggunakan proksinya di Timur Tengah seperti Hizbullah, Houthi dan lainnya. Serangan melalui jalur proksi akan lebih irit dana dan menghindari risiko balas dendam yang dilalukan Tel Aviv.

Keempat, Iran jg belom bisa memastikan siapakah sekutunya yang siap membackupnya jika memang mendelarasikan perang terhadap Israel. Tiongkok saat ini masih fokus pada isu ekonomi dan keteganan terhadap Taiwan dan Laut China Selatan. Rusia masih tertarik dengan Ukraina. Sedangkan Korea Utara masih memiliki konflik dengan Israel.

Terlepas dari kondisi-kondisi itu, meskipun Beijing dan Moskow memainkan narasi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, mereka tidak memiliki kisah permusuhan terhadap Israel. Hubungan ekonomi dan konservasi di antara keduanya masih tetap terjaga.

Dalam pernyataannya, Beijing hanya menyampaikan “keprihatinan yang mendalam” atas eskalasi yang terjadi saat ini dan meminta pihak-pihak terkait untuk bersikap tenang dan menahan diri untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Serangan Iran ini memang tak menampik menjadi pemikiran bagi negeri-negeri Sunni yang dinilai diam-diam terhadap kezaliman Israel, namun menjadikan Iran pahlwan dalam serangan kilat ini juga terlalu berlebihan. Faksi Brigade Izzudin Al Qassam sudah sangat jauh meninggalkan keduanya soal arti perlawanan terhadap entitas Zionis. Belum lagi jika kita menengok pelanggaran-pelanggaran HAM Iran bersama rezim Assad terhadap warga Suriah.

Wallahu a’lam bishawab

Penulis adalah Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.